Iman Sejati Mencegah Keduniawian

Yakobus 4

Seorang remaja bertanya, “Mengapa Allah tidak langsung mengangkat kita ke sorga saat kita bertobat dan menyatakan iman kepada Yesus Kristus, padahal, menjalani hidup sebagai orang percaya di duniaini sangat susah?” Sesungguhnya, remaja ini secara polos mengemukakan realitas hidup yang dialami setiap orang percaya. Sama seperti Kristus bukan dari dunia, semua orang pilihan Allah juga bukan berasal dari dunia. Akan tetapi, kita masih berada di dalam dunia. Kita telah dikuduskan—atau dipisahkan—Allah menjadi umat milik-Nya. Kita adalah pengembara yang tidak menetap. Kewarganegaraan kita adalah kewarganegaraan sorga, tetapi kita masih tinggal di dunia, dan dunia ini terus-menerus berupaya menarik kita untuk menjadi serupa dengan dunia ini.

Yakobus mengingatkan agar kita tidak bersahabat dengan dunia (4:4-5). Orang yang bersahabat dengan dunia disebut tidak setia atau mendua hati, bahkan pezinah. Kita harus memilih antara bersahabat dengan dunia atau bersahabat dengan Allah. Persahabatan dengan dunia membuat kita mengadopsi sistem nilai, cara pikir, cara kerja, dan semangat dunia ini, yaitu: Pertama, keberpusatan pada hawa nafsu diri sendiri (4:1-3). Manifestasinya adalah bertengkar, membunuh, iri hati, dan sebagainya. Bahkan, doa pun berpusat pada hawa nafsunya. Konsep dunia adalah memakai berbagai cara demi memuaskan hawa nafsu. Tidak mengherankan bila fitnah menjadi alternatif untuk ditempuh (4:11-12). Kedua, kesombongan (4:6-10). Ingatlah bahwa, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Manifestasi lain dari kesombongan adalah adanya kepercayaan diri yang begitu kuat, sehingga ia tidak merasa perlu bergantung kepada Allah untuk hari depan. Sebaliknya, orang yang bersahabat dengan Allah mengerti bahwa dirinya hanya manusia terbatas yang perlu melibatkan Allah yang tidak terbatas dalam perencanaan hidupnya (4:13-17).

Iman yang sejati akan mendorong seseorang untuk terus-menerus mencari dan bersahabat dengan Allah. Kehidupan orang percaya di tengah dunia ini seumpama sebuah kapal selam. Kapal selam dirancang untuk berada di dalam air, sehingga kapal itu harus diinsulasi atau disekat, bukan diisolasi dari air. Persahabatan dengan Allah menjadi insulasi atau sekat bagi kita dari pengaruh dunia ini. Apakah Anda sudah bersahabat dengan Allah dan menjauhi pengaruh dunia? [MT]

Date

Dec 12 2021
Expired!

Time

8:00 am - 6:00 pm