Menganggap Diri Bijak?

Amsal 26

Ungkapan “menganggap dirinya (lebih) bijak” muncul tiga kali dengan nada negatif dalam bacaan Alkitab hari ini (26:5,12,16). Ungkapan pertama (26:5) tampak bertentangan dengan ayat sebelumnya (26:4). Apakah orang bebal harus dijawab menurut kebodohannya atau tidak perlu dijawab? Tidak ada pilihan yang menguntungkan. Kadang-kadang kita perlu menjawab, kadang-kadang tidak perlu. Bila kita menjawab, tu- juannya adalah agar si bebal tidak menganggap dirinya bijak. Ungkapan kedua (26:12) mengajarkan bahwa orang yang menganggap diri bijak itulah yang sebenarnya paling perlu berubah. Ungkapan ketiga (26:16) memperlihatkan kebodohan orang yang menganggap dirinya bijak, yaitu ia berpikir bahwa dirinya begitu pandai, sehingga ia dapat mengecoh setiap orang—perhatikan kata “tujuh” orang (26:16)—padahal sebenarnya ia tidak memahami jawaban mereka yang bijaksana.

Firman Tuhan dalam Yeremia 9:23-24 adalah nasihat bagi orang yang menganggap dirinya bijak, “Janganlah orang bijaksana bermegah karena  kebijaksanaannya,  janganlah  orang  kuat  bermegah  karena kekuatannya,  janganlah  orang  kaya bermegah  karena  kekayaannya, tetapi  siapa  yang  mau  bermegah,  baiklah  bermegah  karena  yang berikut:  bahwa  ia memahami  dan  mengenal  Aku,  bahwa  Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman Tuhan.” Kata “bermegah” adalah terjemahan dari kata Ibrani Halal yang berarti “memegahkan, memuji, memuliakan, membanggakan” tiga hal, yaitu kebijaksanaan, kekuatan, dan kekayaan. Ketiga hal itu dipandang sebagai kebesaran sejati (true greatness) yang dikejar manusia. Tuhan menginginkan agar kita tidak sombong rohani atau merasa diri lebih mengenal Tuhan dibandingkan dengan orang lain, melainkan agar kita mengejar dan merindukan pengenalan—atau kedekatan relasi—dengan Tuhan. Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan menyatakan kesukaan-Nya terhadap orang yang tidak menganggap dirinya bijak, tetapi yang mengakui bahwa kebijaksanaan, kekayaan, dan kekuatan hanya berlaku untuk Tuhan. Hati kita seharusnya merasa puas oleh kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Apakah kepuasan Anda didasarkan hanya pada Pribadi Kristus dan karya-Nya dalam hidup Anda? Apa yang menghalangi Anda untuk mengejar pengenalan dan kedekatan dengan Tuhan sebagai sumber kepuasan? [FL]

Date

Dec 03 2021
Expired!

Time

8:00 am - 6:00 pm