Ratapan di tengah Dosa dan Sengsara

Ratapan 1

Bacaan Alkitab hari ini memaparkan betapa memilukannya kondisi Yerusalem yang sengsara karena dosa-dosa mereka. Di bagian pertama, Nabi Yeremia melihat keadaan Yerusalem dari sudut pandang ‘orang luar’ (1:1-11). Di bagian kedua, sang nabi memosisikan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari dosa dan sengsara Yerusalem (1:12-19). Di bagian ketiga, beliau menyerukan doa kepada TUHAN (1:20-22).

Yerusalem amat menderita karena keberdosaan umat Tuhan. Kota itu seperti janda. Yerusalem—kota yang dahulu dipandang seperti ratu—kini menjadi budak jajahan. Bukan hanya itu: Kini tidak ada lagi penduduk yang tinggal di sana karena yang ada hanyalah keresahan. Dahulu, kota itu ramai karena orang-orang berbondong-bondong ke sana untuk beribadah. Kini, Yerusalem senyap. Dahulu, kota itu dipandang mulia, tetapi kini, kota itu hancur karena segala yang berharga dirampas oleh para lawannya. Dahulu, kota itu berlimpah dengan makanan. Sekarang, penduduknya kelaparan. Betapa perih, pedih, dan merananya kondisi kota itu dalam pandangan sang nabi.

Yeremia, sang nabi, tidak hanya melihat kota Yerusalem ’dari luar’. Ia memosisikan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari Yerusalem. Sang nabi berseru, menangis, bahkan mengerang dalam kesengsaraan yang mendalam. Dalam lubuk hatinya, beliau sadar bahwa kota itu begitu najis dan menjijikkan di hadapan Allah. Jeritan yang menyedihkan menggam- barkan betapa mengerikannya dosa penduduk Yerusalem di hadapan Allah. Kengerian yang dialami Yerusalem itu bukan disebabkan karena Allah tidak punya hati lagi kepada umat-Nya, tetapi karena umat-Nya telah memalingkan diri dari Allah. Oleh karena itu, dengan menempat- kan diri sebagai bagian dari Yerusalem, Nabi Yeremia mengakui segala kenajisan dosa-dosa bangsanya. Dia ‘menjadikan dirinya berdosa’—sama seperti Yerusalem—di hadapan Allah.

Dalam kondisi seperti di atas, dalam doanya, Nabi Yeremia memohon pertolongan Allah. Doa sang nabi tidak lahir dari diri yang merasa paling benar di antara seluruh penduduk Yerusalem. Sebaliknya, beliau menganggap dirinya sebagai bagian dari umat yang menjijikkan itu, dan sang nabi memohon belas kasihan Allah dalam ratapannya. Bukankah Kristus juga melakukan hal seperti itu bagi kita? Bagaimana respons Anda terhadap dosa yang marak di sekitar Anda? [NP]

Date

Oct 19 2021
Expired!