Yang Pertama Atau Yang Terutama?

1 Tawarikh 2

Identitas historis suatu bangsa tidak terlepas dari awal mula terbentuknya bangsa tersebut. Identitas tersebut mencakup keunikan, sifat, karakter, suku, budaya serta keanekaragaman bangsa tersebut. Penulis Tawarikh mengingatkan generasi yang kembali dari pembuangan di Babel ke Tanah Yehuda agar tidak melupakan asal-usul mereka— sebagai bangsa pilihan Tuhan—yang dimulai dari Adam, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub. Di pasal 2 ini, penulis mencatat kedua belas anak lakilaki Yakub yang mewakili dua belas suku bangsa Israel.

Dalam tradisi Israel, anak sulung lebih diutamakan karena mereka adalah penerima warisan hak kesulungan (bandingkan dengan Ulangan 21:15-17). Seharusnya, Ruben-lah penerima hak kesulungan. Akan tetapi, karena Ruben berzinah dengan meniduri Bilha, yaitu istri atau gundik ayahnya sendiri, TUHAN menghukum Ruben dengan mencabut hak kesulungannya. Hak kesulungan itu akhirnya diberikan kepada keturunan Yusuf (1 Tawarikh 5:1; Kejadian 35:22; 49:3-4). Yusuf memang pantas mendapat hak kesulungan karena ia mendapat penyertaan dan kasih setia TUHAN, dan apa yang dikerjakan oleh Yusuf dibuat TUHAN berhasil (Kejadian 39). Sekalipun demikian, dalam kedaulatan-Nya, Tuhan justru memilih Yehuda, bukan Yusuf, sebagai pewaris kekuasaan atas umat Israel. Melalui keturunan Yehuda, lahir raja-raja yang kelak memimpin bangsa Israel, mulai dari Daud, Salomo, lalu dilanjutkan dengan raja-raja di Kerajaan Yehuda, sampai kepada Yesus yang disebut Kristus (bandingkan Kejadian 49:8-10 dan Matius 1:1-16).

Figur Yehuda bukanlah pribadi ideal. Ia mempunyai catatan masa lalu yang kelam dan memalukan. Ia menikah dengan perempuan Kanaan dan pergi mencari perempuan sundal yang ternyata adalah menantunya sendiri, yaitu Tamar (Kejadian 38). Dalam kehendak, kedaulatan, dan kemurahan-Nya, Allah dapat memakai orang-orang yang lemah dan tak berdaya untuk masuk dalam rencana kekal-Nya. Allah memilih Ishak, bukan Ismael. Allah memilih Yakub, bukan Esau. Allah memilih Yehuda, bukan Ruben atau Yusuf. Hal ini menyadarkan kita bahwa kita tidak boleh sombong atau menganggap diri lebih layak daripada orang lain. Apakah Anda bersedia untuk dengan rendah hati menerima undangan Allah yang telah memilih Anda dan hendak memakai Anda untuk menjadi mitra yang menjalankan rencana-Nya bagi dunia ini? [TC]

Date

Jan 02 2022
Expired!