Selamat datang di GKY Gerendeng!
Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Visi dan Misi Gereja
Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.
Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.
CREED
QT Terbaru
15 Oktober 2026
Karakter yang Melayani
Ayub mengenang masa-masa ketika "pelita Tuhan bercahaya di atas kepalanya." Ia tidak mengenang kekayaannya demi kesombongan, melainkan merindukan kedekatan dengan Tuhan dan dampak sosial yang pernah ia berikan bagi sesama. Kemuliaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada seberapa besar kehadiran kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.Ayub merindukan bulan-bulan yang lalu, saat Tuhan melindungi dia dan persekutuan dengan Tuhan ada di atas kemahnya. Ia merindukan masa ketika ia merasa "akrab" dengan Yang Mahakuasa. Hubungan dengan Tuhan adalah fondasi kebahagiaan. Ayub tidak memulai kenangannya dengan menyebutkan jumlah kambing dombanya, tetapi dengan menyebutkan perlindungan dan persahabatan dengan Tuhan. Di tengah masa gelap, wajar jika kita merindukan masa-masa "manis" bersama Tuhan. Jadikan kerinduan ini sebagai bahan doa, bukan sebagai alasan untuk pahit hati. Ingatlah bahwa Tuhan yang sama yang menyertai kita di masa terang, tetap ada di samping kita di masa gelap, meski "pelita-Nya" seolah sedang redup.Ayub menceritakan mengapa ia begitu dihormati: ia menyelamatkan orang miskin yang berteriak minta tolong, membela yatim piatu, menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh. Ia adalah "ayah" bagi orang miskin. Gunakan masa kelimpahan untuk menabur kebaikan. Kita tidak tahu kapan roda kehidupan akan berputar. Selagi Tuhan mempercayakan kekuatan, harta, dan pengaruh, gunakanlah itu untuk membela mereka yang lemah. Hidup Ayub sangat bermakna karena ia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Saat kita melayani sesama, kita sedang membangun "warisan batin" yang tidak bisa dirampas oleh penderitaan sekalipun.Ketika Ayub pergi ke pintu gerbang kota, orang-orang muda menepi karena hormat, dan orang-orang tua bangkit berdiri. Pemuka-pemuka masyarakat pun diam mendengarkan nasehatnya. Ayub menjadi pemimpin yang memberikan harapan, "seperti orang yang menghibur mereka yang berduka" (ayat 25). Pengaruh sejati lahir dari karakter, bukan gelar. Ayub dihormati bukan karena ia paling kaya, tetapi karena ia paling bijak dan peduli. Jadilah orang yang kehadirannya memberi kesejukan bagi orang lain. Di tempat kerja, di keluarga, atau di gereja, apakah kehadiran kita memberikan harapan atau justru menambah beban?Ayub sempat berpikir, "Aku akan mati di dalam sarangku, dan memperbanyak hari-hariku seperti pasir." Ia menyangka bahwa kesalehan dan kemakmurannya akan menjamin masa tua yang tenang tanpa gangguan. Jangan menaruh iman pada situasi yang tenang. Ayub belajar dengan cara yang keras bahwa kehidupan di dunia ini tidak bisa diprediksi. Kita sering terjebak berpikir bahwa jika kita sudah "baik", maka hidup akan selalu "lancar". Iman yang dewasa adalah iman yang siap memuji Tuhan di "pintu gerbang kota" saat dihormati, maupun di "atas abu" saat dihina.Refleksi:Apakah reputasi kita lebih dibangun oleh pencapaian pribadi atau oleh pelayanan kepada orang lain?Bagaimana kita dapat menjaga hati agar tetap melayani, bahkan ketika tidak lagi dihargai seperti dulu?Apa perbedaan antara dihormati karena jabatan dan dihormati karena integritas?Doa:Allah Bapa, terima kasih untuk setiap masa terang yang pernah Engkau berikan dalam hidup kami. Ampunilah kami jika saat berada di atas, kami lupa bahwa semuanya adalah anugerah-Mu. Ajarilah kami untuk memiliki hati yang peduli kepada mereka yang buta, lumpuh, dan miskin di sekitar kami. Saat ini, di tengah musim yang mungkin berbeda, kami merindukan keintiman dengan-Mu. Jadilah pelita yang menuntun langkah kami, baik di puncak gunung maupun di lembah yang dalam. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
14 Oktober 2026
Harta yang Tak Tergali
Setelah melewati perdebatan yang melelahkan dengan para sahabatnya, Ayub sejenak berhenti mengeluh dan mulai merenungkan tentang asal-usul Hikmat. Ia membandingkan usaha keras manusia dalam mencari harta karun di bumi dengan pencarian akan hikmat yang sejati. Manusia mungkin mampu menyingkap misteri di kedalaman bumi, namun hanya Tuhan yang mampu memberikan hikmat untuk memahami misteri kehidupan.Ayub memaparkan betapa hebatnya manusia dalam menambang. Manusia bisa menggali terowongan di kegelapan, menemukan emas, perak, dan permata di tempat-tempat yang bahkan tidak diketahui oleh burung buas atau binatang buas. Manusia mampu mengubah aliran sungai dan membongkar gunung demi mencari benda berharga. Kita sering lebih gigih mengejar materi daripada kerohanian. Kita sanggup bekerja keras, belajar hingga larut malam, dan menempuh jarak jauh demi kemapanan ekonomi. Namun, Ayub mengingatkan bahwa sehebat apa pun teknologi dan usaha kita, itu hanya bisa menyentuh hal-hal fisik. Kehebatan duniawi tidak secara otomatis membuat kita mampu memahami arti penderitaan atau rencana Tuhan.Setelah menunjukkan kecanggihan manusia, Ayub mengajukan pertanyaan kunci: "Tetapi di manakah hikmat dapat diperoleh? Di manakah tempat akal budi?" (ayat 12). Ayub menegaskan bahwa hikmat tidak ditemukan di dalam tanah, tidak ada di dasar samudera, dan tidak dapat dibeli dengan emas murni atau permata (ayat 15-19). Bahkan maut dan dunia orang mati pun hanya mendengar “desas-desusnya". Pendidikan tinggi atau kekayaan melimpah tidak menjamin seseorang memiliki hikmat dalam menghadapi badai hidup. Hikmat untuk mengerti mengapa hal buruk terjadi pada orang baik bukanlah sesuatu yang bisa kita temukan dengan logika manusia semata. Itu adalah sesuatu yang melampaui kemampuan intelektual kita.Ayub menyatakan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui jalan ke tempat hikmat itu berada. Mengapa? Karena Dialah Sang Pencipta. Saat Ia menetapkan kekuatan angin dan mengatur takaran air, saat Ia membuat ketetapan bagi hujan dan jalan bagi kilat, pada saat itulah Ia melihat dan menetapkan hikmat. Hanya Pencipta yang memegang "buku petunjuk" kehidupan. Kita sering merasa frustrasi karena tidak paham jalan hidup kita. Ayub mengingatkan bahwa Tuhan melihat gambaran besarnya. Karena Dia yang merancang semesta, maka Dia pula yang paling tahu bagaimana kehidupan ini seharusnya dijalani. Berhenti mencari jawaban pada logika yang terbatas, mulailah mencari pada Pribadi yang memegang kendali."Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.” Hikmat bukanlah "tahu segalanya", melainkan "percaya sepenuhnya". Ayub tidak mendapatkan jawaban mengapa semua hartanya hilang atau mengapa ia sakit. Tetapi ia sampai pada kesimpulan bahwa hikmat bukan berarti memiliki jawaban atas semua pertanyaan "Mengapa?". Hikmat yang sejati adalah tetap menghormati Tuhan (takut akan Tuhan) dan tetap hidup benar (menjauhi kejahatan) sekalipun kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi.Refleksi:Mengapa hikmat tidak dapat ditemukan dengan cara yang sama seperti emas atau perak?Bagaimana kita memahami bahwa hikmat sejati berasal dari Tuhan, bukan dari kecerdasan semata?Apa yang menghalangi kita untuk sungguh-sungguh mencari hikmat Tuhan di tengah kesibukan hidup?Doa:Allah Bapa, kami mengakui bahwa sering kali kami lebih sibuk menggali 'emas dan perak' duniawi daripada mencari hikmat-Mu. Ampunilah kami jika kami merasa sanggup mengatur hidup kami sendiri. Hari ini kami mau kembali pada dasar hikmat, yaitu takut akan Engkau. Kami tidak butuh tahu semua alasan di balik pergumulan, kami hanya butuh percaya bahwa Engkau memegang kendali. Berikanlah kami kekuatan untuk tetap menjauhi kejahatan di tengah masa sulit kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT