Selamat datang di GKY Gerendeng!
Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Visi dan Misi Gereja
Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.
Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.
CREED
QT Terbaru
7 Agustus 2026
Rahasia Menjadi Kuat
Yotam, putra Uzia, berbeda dengan ayah, kakek, dan buyutnya yang semuanya memulai dengan baik namun berakhir dengan tragis, Yotam adalah salah satu dari sedikit raja Yehuda yang memiliki grafik kehidupan yang stabil dan konsisten. Yotam melihat kesuksesan ayahnya (Uzia) dalam membangun bangsa, dan ia meneladaninya. Namun, ia juga melihat ayahnya menjadi kusta karena sombong dan melanggar kekudusan Bait Tuhan. Yotam belajar dari tragedi itu. Ia memutuskan: "Aku akan mengikuti jejak ayahku dalam hal prestasi, tetapi aku tidak akan mengikuti jejaknya dalam hal kesombongan.” Kita tidak harus mengalami kegagalan sendiri untuk menjadi bijak. Belajarlah dari sejarah dan orang-orang di sekitar kita. Ambillah teladan baik dari orang tua atau pemimpin kita, tetapi jadikan kesalahan mereka sebagai "lampu kuning" agar kita tidak jatuh di lubang yang sama.Yotam terus membangun: ia memperbaiki Pintu Gerbang Tinggi di Bait Tuhan, membangun tembok di bukit Ofel, serta kota-kota dan menara-menara di pegunungan. Ia tidak terganggu oleh ambisi yang menyimpang; ia fokus pada tanggung jawabnya untuk memperkuat negeri. Kekuatan sejati lahir dari konsistensi dalam hal-hal kecil. Yotam tidak mencari sensasi rohani yang aneh-aneh (seperti ayahnya yang ingin membakar ukupan sendiri); ia melakukan tugasnya sebagai raja dengan setia."Yotam menjadi kuat, karena ia mengarahkan jalan-jalannya kepada TUHAN, Tuhannya.” Berbeda dengan Uzia yang menjadi kuat lalu menjadi sombong, Yotam menjadi kuat karena ia menundukkan setiap langkahnya di bawah otoritas Tuhan. Mengarahkan jalan kepada Tuhan berarti selalu berkonsultasi dengan-Nya sebelum melangkah, memastikan bahwa setiap rencana selaras dengan Firman-Nya.Meskipun Yotam sangat baik, "rakyat masih saja melakukan hal yang merusak." Ini adalah realita pelayanan. Yotam tidak bisa memaksa hati rakyatnya, tetapi ia bisa memastikan bahwa dirinya sendiri tetap benar di hadapan Tuhan. Kita bertanggung jawab atas karakter kita sendiri, bukan atas respon orang lain. Jangan biarkan lingkungan yang buruk atau orang-orang yang tidak mau berubah di sekitar kita melemahkan semangat kita untuk tetap hidup benar. Tetaplah menjadi "Yotam" meskipun orang lain tetap hidup dalam kerusakan.Refleksi:Mengapa ketaatan yang tenang dan konsisten, meski tidak spektakuler, justru menghasilkan kekuatan sejati?Dalam bagian mana terlihat bahwa kekuatan Yotam mencakup aspek rohani, kepemimpinan, dan keteguhan karakter?Apa bahaya jika kita menilai kekuatan hanya dari keberhasilan lahiriah dan bukan dari kesetiaan di hadapan Tuhan?Doa:Allah Bapa, terima kasih atas teladan hidup Yotam. Berikan kami hikmat untuk belajar dari kegagalan orang lain agar kami tidak jatuh dalam jerat yang sama. Kami mau mengarahkan setiap langkah dan keputusan kami hanya kepada-Mu. Biarlah kekuatan kami berasal dari ketaatan yang konsisten kepada-Mu, sehingga hidup kami memuliakan nama-Mu sampai akhir. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
6 Agustus 2026
Menjadi Kuat dan Menjadi Sombong
Uzia, salah satu raja paling sukses dalam sejarah Yehuda. Namun, kisahnya sekaligus menjadi peringatan tentang bagaimana kesombongan adalah musuh terbesar dari kesuksesan. Uzia naik takhta pada usia yang sangat muda, 16 tahun. Di bawah kepemimpinannya, Yehuda mengalami kemajuan pesat dalam bidang militer, pertanian, dan teknologi. Namun, akhir hidupnya adalah sebuah tragedi yang memilukan.Kunci utama keberhasilan Uzia: "Ia mencari Tuhan selama hidup Zakharia... Dan selama ia mencari TUHAN, Tuhan membuat segala usahanya berhasil." Uzia adalah seorang inovator; ia membangun menara, menggali sumur, dan menciptakan mesin-mesin perang. Tuhan tidak melarang kita untuk menjadi hebat, kaya, atau inovatif. Namun, kita harus sadar bahwa hikmat untuk membangun semua itu berasal dari Dia.Perubahan drastis terjadi pada Uzia: "Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati, sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Tuhannya..." Uzia merasa bahwa karena dia adalah raja yang hebat, dia boleh melanggar ketetapan Tuhan dengan masuk ke dalam Bait Tuhan untuk membakar ukupan, tugas yang hanya dikhususkan bagi para imam. Kekuatan yang tidak disertai dengan kerendahan hati akan menghancurkan kita. Sering kali, musuh terbesar kita bukanlah kegagalan, melainkan keberhasilan. Saat kita merasa sudah "kuat", kita cenderung mulai merasa "bebas" dari aturan Tuhan atau merasa tidak perlu lagi tunduk pada otoritas rohani. Waspadalah saat kita merasa paling hebat, karena di situlah kejatuhan sedang mengintai.Imam Azarya dan 80 imam lainnya menunjukkan keberanian luar biasa dengan menegur raja. Mereka tidak takut pada kekuasaan raja demi menjaga kekudusan rumah Tuhan. Namun, bukannya bertobat, Uzia justru menjadi marah. Uzia memiliki kesempatan untuk bertobat saat para imam menghalanginya. Namun, kemarahan sering kali menjadi tameng bagi orang yang sombong. Jika seseorang mengingatkan kita tentang batas-batas yang kita langgar, janganlah marah. Itu adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari kerusakan yang lebih besar.Seketika itu juga, saat Uzia marah, penyakit kusta timbul di dahinya. Ia harus dikucilkan dan hidup di rumah pengasingan sampai hari matinya. Ia kehilangan segalanya: takhtanya, kebebasannya, dan haknya untuk masuk ke rumah Tuhan. Dosa mungkin terasa instan, tetapi dampaknya bisa permanen. Uzia diingat sejarah bukan hanya sebagai raja yang membangun menara, tetapi sebagai raja yang mati sebagai penderita kusta karena kesombongannya. Jangan tukar warisan iman dan integritas yang sudah kita bangun bertahun-tahun dengan satu momen keangkuhan.Refleksi:Mengapa keberhasilan dan reputasi sering kali menjadi ujian yang lebih berat daripada kesulitan?Bagaimana tindakan Uzia memasuki Bait TUHAN mengungkapkan ketidaktaatan yang didorong oleh kesombongan?Mengapa teguran dari para imam justru menjadi kesempatan terakhir bagi pertobatan Uzia?Doa:Allah Bapa, terima kasih untuk setiap keberhasilan yang Engkau percayakan dalam hidup kami. Tolonglah kami agar tetap rendah hati dan tetap mencari wajah-Mu, bahkan saat kami merasa kuat. Jangan biarkan kesombongan menguasai hati kami. Berikan kami hati yang mau diajar dan ditegur, agar kami bisa mengakhiri perjalanan kami dengan setia di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT