Selamat datang di GKY Gerendeng!
Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Visi dan Misi Gereja
Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.
Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.
CREED
QT Terbaru
16 Oktober 2026
Kehormatan Berganti Hinaan
Jika sebelumnya Ayub mengenang masa jayanya sebagai pemimpin yang dihormati, kini ia meratapi kejatuhannya yang paling dalam. Ia tidak hanya kehilangan harta dan kesehatan, tetapi juga kehilangan martabatnya. Ayub merasa dikhianati oleh masyarakat dan ditinggalkan oleh Tuhan. Dunia mungkin bisa merampas harga diri dan kenyamanan kita, tetapi penderitaan yang paling berat adalah ketika kita merasa Tuhan tidak lagi menjawab jeritan kita.Ayub menceritakan betapa ia sekarang menjadi bahan tertawaan orang-orang yang usianya lebih muda, bahkan oleh mereka yang dahulu dianggap paling rendah di masyarakat. Orang-orang yang dahulu ia tolong, kini meludahi wajahnya dan memperlakukannya tanpa belas kasihan. Jangan gantungkan harga dirimu pada penilaian manusia. Dunia sangat cepat berubah; hari ini mereka bisa menghormatimu, besok mereka bisa menghinamu. Ayub belajar bahwa rasa hormat manusia sering kali hanya sedalam kantong atau setinggi jabatan kita. Jika kita hari ini merasa dikucilkan atau dihina, ingatlah bahwa Yesus pun mengalami hal yang sama. Dia ditolak oleh orang-orang yang datang untuk diselamatkan-Nya. Martabat kita yang sejati ada di dalam pandangan Tuhan, bukan di mulut manusia.Ayub menggambarkan rasa sakitnya dengan sangat detail: "Pada waktu malam tulang-tulangku ditusuk... Aku dilemparkan ke dalam lumpur." Tubuhnya hancur, dan ia merasa seolah-olah pakaiannya pun menjadi musuh bagi kulitnya yang sakit. Tuhan memahami batas kekuatan kita. Ada saat-saat di mana rasa sakit fisik dan tekanan mental terasa begitu menyesakkan hingga kita merasa "larut" dalam penderitaan (ayat 16). Jangan merasa bersalah jika kita merasa lemah atau ingin mengeluh. Tuhan Yesus adalah Imam Besar yang bisa merasakan kelemahan kita.Inilah puncak kepedihan Ayub: "Aku berseru kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak mempedulikan aku." Ayub merasa Tuhan telah berubah menjadi kejam kepadanya dan menggunakan kekuatan-Nya hanya untuk menindasnya. Diamnya Tuhan bukan berarti Ia tidak peduli. Ayub merasa Tuhan absen, padahal kita tahu dari awal kitab ini bahwa Tuhan sedang memperhatikan Ayub dengan penuh bangga. Saat kita merasa doa-doa kita hanya membentur langit-langit, jangan menyerah. Iman bukan tentang merasakan Tuhan selalu ada, tapi percaya Tuhan tetap ada bahkan ketika Ia diam.Ayub menutup pasalnya dengan ratapan: kecapi dan serulingnya kini hanya mengeluarkan bunyi ratapan dan tangisan. Ia merasa seperti saudara bagi serigala dan kawan bagi burung unta, sendirian di padang gurun penderitaan. Tidak apa-apa untuk berduka. Alkitab memberikan ruang bagi ratapan. Ayub tidak berpura-pura kuat; ia menumpahkan kesedihannya. Tuhan tidak mencari anak-anak yang selalu "terlihat bahagia" secara palsu, melainkan anak-anak yang jujur datang kepada-Nya dengan hati hancur. Di tengah duka kita, ingatlah bahwa musim ratapan tidak akan berlangsung selamanya.Refleksi:Bagaimana kita merespons ketika reputasi atau posisi kita menurun?Bagaimana kita menjaga hati agar tidak menjadi pahit ketika diperlakukan tidak adil atau direndahkan?Apa perbedaan antara meratap dengan jujur dan tenggelam dalam keputusasaan?Doa:Allah Bapa, saat dunia kami runtuh dan orang-orang di sekitar kami menjauh, ajarlah kami untuk tetap berpaut pada-Mu. Terima kasih karena Engkau tidak pernah meludahi wajah kami, melainkan membasuh air mata kami. Saat kami merasa Engkau diam dan tidak menjawab doa kami, kuatkanlah hati kami agar kami tidak undur. Kami percaya bahwa penderitaan kami tidak sia-sia di mata-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
15 Oktober 2026
Karakter yang Melayani
Ayub mengenang masa-masa ketika "pelita Tuhan bercahaya di atas kepalanya." Ia tidak mengenang kekayaannya demi kesombongan, melainkan merindukan kedekatan dengan Tuhan dan dampak sosial yang pernah ia berikan bagi sesama. Kemuliaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada seberapa besar kehadiran kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.Ayub merindukan bulan-bulan yang lalu, saat Tuhan melindungi dia dan persekutuan dengan Tuhan ada di atas kemahnya. Ia merindukan masa ketika ia merasa "akrab" dengan Yang Mahakuasa. Hubungan dengan Tuhan adalah fondasi kebahagiaan. Ayub tidak memulai kenangannya dengan menyebutkan jumlah kambing dombanya, tetapi dengan menyebutkan perlindungan dan persahabatan dengan Tuhan. Di tengah masa gelap, wajar jika kita merindukan masa-masa "manis" bersama Tuhan. Jadikan kerinduan ini sebagai bahan doa, bukan sebagai alasan untuk pahit hati. Ingatlah bahwa Tuhan yang sama yang menyertai kita di masa terang, tetap ada di samping kita di masa gelap, meski "pelita-Nya" seolah sedang redup.Ayub menceritakan mengapa ia begitu dihormati: ia menyelamatkan orang miskin yang berteriak minta tolong, membela yatim piatu, menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh. Ia adalah "ayah" bagi orang miskin. Gunakan masa kelimpahan untuk menabur kebaikan. Kita tidak tahu kapan roda kehidupan akan berputar. Selagi Tuhan mempercayakan kekuatan, harta, dan pengaruh, gunakanlah itu untuk membela mereka yang lemah. Hidup Ayub sangat bermakna karena ia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Saat kita melayani sesama, kita sedang membangun "warisan batin" yang tidak bisa dirampas oleh penderitaan sekalipun.Ketika Ayub pergi ke pintu gerbang kota, orang-orang muda menepi karena hormat, dan orang-orang tua bangkit berdiri. Pemuka-pemuka masyarakat pun diam mendengarkan nasehatnya. Ayub menjadi pemimpin yang memberikan harapan, "seperti orang yang menghibur mereka yang berduka" (ayat 25). Pengaruh sejati lahir dari karakter, bukan gelar. Ayub dihormati bukan karena ia paling kaya, tetapi karena ia paling bijak dan peduli. Jadilah orang yang kehadirannya memberi kesejukan bagi orang lain. Di tempat kerja, di keluarga, atau di gereja, apakah kehadiran kita memberikan harapan atau justru menambah beban?Ayub sempat berpikir, "Aku akan mati di dalam sarangku, dan memperbanyak hari-hariku seperti pasir." Ia menyangka bahwa kesalehan dan kemakmurannya akan menjamin masa tua yang tenang tanpa gangguan. Jangan menaruh iman pada situasi yang tenang. Ayub belajar dengan cara yang keras bahwa kehidupan di dunia ini tidak bisa diprediksi. Kita sering terjebak berpikir bahwa jika kita sudah "baik", maka hidup akan selalu "lancar". Iman yang dewasa adalah iman yang siap memuji Tuhan di "pintu gerbang kota" saat dihormati, maupun di "atas abu" saat dihina.Refleksi:Apakah reputasi kita lebih dibangun oleh pencapaian pribadi atau oleh pelayanan kepada orang lain?Bagaimana kita dapat menjaga hati agar tetap melayani, bahkan ketika tidak lagi dihargai seperti dulu?Apa perbedaan antara dihormati karena jabatan dan dihormati karena integritas?Doa:Allah Bapa, terima kasih untuk setiap masa terang yang pernah Engkau berikan dalam hidup kami. Ampunilah kami jika saat berada di atas, kami lupa bahwa semuanya adalah anugerah-Mu. Ajarilah kami untuk memiliki hati yang peduli kepada mereka yang buta, lumpuh, dan miskin di sekitar kami. Saat ini, di tengah musim yang mungkin berbeda, kami merindukan keintiman dengan-Mu. Jadilah pelita yang menuntun langkah kami, baik di puncak gunung maupun di lembah yang dalam. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT