Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

13 Agustus 2026

Mengabaikan Warisan Iman

Manasye, raja yang memegang rekor sebagai raja yang paling lama memerintah di Yehuda (55 tahun), namun juga sempat menjadi yang paling jahat. Namun, di balik kegelapannya, kita melihat bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar bagi anugerah Tuhan. Kisah Manasye mengajarkan kita tentang kedalaman kejatuhan manusia, tetapi juga tentang ketinggian kasih setia Tuhan yang memulihkan.Manasye adalah anak dari Hizkia, raja yang sangat saleh. Namun, Manasye justru membangun kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dihancurkan ayahnya. Ia bahkan menempatkan patung berhala di dalam Bait Suci dan meramal serta melakukan sihir. Iman tidak otomatis menurun melalui darah. Setiap generasi harus membuat keputusan pribadi untuk mengikut Tuhan. Memiliki orang tua atau lingkungan yang rohani adalah berkat, tetapi itu tidak menjamin keselamatan kita jika kita sendiri tidak mau tunduk kepada Tuhan. Jangan sia-siakan warisan iman yang sudah diberikan kepada kita.Tuhan berkali-kali memperingatkan Manasye dan rakyatnya, tetapi mereka tidak menghiraukan. Akhirnya, Tuhan membiarkan raja Asyur menangkap Manasye, membelenggunya dengan rantai tembaga, dan membawanya ke Babel. Kadang Tuhan menggunakan "penjara" untuk membuka mata kita. Sering kali, dalam kenyamanan dan kesuksesan, kita menjadi tuli terhadap suara Tuhan. Tuhan mengizinkan Manasye kehilangan segalanya agar ia menyadari bahwa ia tidak memiliki apa pun tanpa Tuhan. Jika saat ini kita merasa "terbelenggu" oleh situasi yang sulit, mungkin itu adalah cara Tuhan untuk menarik perhatian kita kembali kepada-Nya.Di dalam kesesakannya di Babel, Manasye melakukan sesuatu yang luar biasa: ia merendahkan diri dengan sangat di hadapan Tuhan nenek moyangnya dan berdoa. Tuhan mendengar doa raja yang paling jahat ini! Tuhan memulihkan kedudukannya di Yerusalem. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat. Mungkin kita merasa telah melangkah terlalu jauh, melakukan dosa yang terlalu besar, atau merasa tidak layak lagi di hadapan Tuhan. Kisah Manasye membuktikan bahwa Tuhan selalu siap mengampuni hati yang benar-benar hancur dan menyesal. Anugerah-Nya lebih besar daripada kegagalan kita.Setelah kembali ke Yerusalem, Manasye tidak hanya sekadar berkata "maaf". Ia menunjukkan perubahan nyata: ia menjauhkan dewa-dewa asing, menurunkan patung dari rumah TUHAN, dan membangun kembali mezbah TUHAN. Manasye menghabiskan sisa hidupnya untuk memperbaiki kerusakan yang telah ia buat. Jangan hanya menyesali dosa, tetapi mulailah membangun kembali apa yang telah dirusak oleh dosa tersebut di dalam hidup kita.Amon, anak Manasye, yang meniru kejahatan ayahnya tetapi tidak mau merendahkan diri seperti ayahnya, akibatnya, ia mati dibunuh oleh pegawainya sendiri. Jangan menyalahgunakan anugerah Tuhan. Kisah Manasye adalah tentang harapan bagi orang berdosa, tetapi kisah Amon adalah peringatan bagi orang yang sengaja mengeraskan hati. Anugerah Tuhan tersedia, tetapi jangan menunda pertobatan.Refleksi:Apa peran disiplin Tuhan melalui pembuangan dalam membuka jalan bagi pertobatan Manasye?Mengapa pertobatan Manasye menegaskan bahwa anugerah Tuhan lebih besar daripada kegagalan manusia?Mengapa dampak dosa Manasye tetap dirasakan oleh bangsa itu, meskipun ia sendiri telah bertobat?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkau adalah Tuhan yang kaya akan rahmat. Kami mengaku bahwa kami sering menyimpang dari jalan-Mu. Namun hari ini, kami mau merendahkan diri kami di hadapan-Mu. Ampunilah dan pulihkanlah hidup kami. Biarlah sisa hidup kami menjadi alat untuk memuliakan nama-Mu dan memperbaiki apa yang telah kami rusak. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

12 Agustus 2026

"Mata Rohani"

Setelah melakukan reformasi spiritual yang luar biasa, satu ujian iman diberikan kepada Raja Hizkia, ia harus menghadapi Sanherib, raja Asyur, penguasa adidaya yang dikenal sangat kejam dan tak terkalahkan pada masa itu. Di tengah ancaman pemusnahan, Hizkia menunjukkan bagaimana seharusnya seorang anak Tuhan bersikap. Hizkia tidak hanya berdoa, ia juga bertindak secara taktis. Ia menutup sumber-sumber air di luar kota agar tidak digunakan musuh, membangun kembali tembok yang runtuh, dan memperbanyak senjata. Iman tidak meniadakan tanggung jawab. Jangan gunakan alasan "percaya Tuhan" untuk menjadi malas atau tidak mempersiapkan diri. Kerjakanlah bagian kita sebaik mungkin, belajar, bekerja keras, membuat perencanaan, dan biarkan Tuhan mengerjakan bagian-Nya yang mustahil. Iman dan hikmat adalah dua sayap yang harus berjalan bersama.Ketika tentara Asyur yang sangat besar mengepung mereka, Hizkia memberikan pidato yang sangat menguatkan: "Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!... sebab yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. Yang menyertai dia adalah lengan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Tuhan kita…" Masalah kita hanyalah "lengan manusia", tetapi penolong kita adalah Tuhan. Dunia mungkin mengancam kita dengan kekuatan ekonomi, penyakit, atau tekanan sosial yang terlihat raksasa. Namun, jika kita memandang dengan mata rohani, kita akan sadar bahwa kekuatan dunia itu terbatas (lengan manusia), sedangkan kuasa Tuhan tidak terbatas.Sanherib tidak hanya menyerang secara fisik, tetapi juga melalui mental. Ia mengirim utusan untuk menghina Tuhan dan mengejek Hizkia. Tujuannya agar rakyat Yehuda takut dan menyerah. Musuh selalu menggunakan intimidasi untuk melemahkan iman kita. Suara-suara negatif dalam pikiran kita sering kali berkata: "Tuhan tidak akan menolongmu," atau "Masalah ini terlalu besar bagimu." Jangan dengarkan suara "Sanherib". Tetaplah percaya pada karakter Tuhan yang setia meskipun situasi di sekeliling kita tampak bising oleh ancaman.Hizkia dan nabi Yesaya tidak membalas hinaan itu dengan kata-kata, melainkan dengan doa. Hasilnya luar biasa: Tuhan mengirim satu malaikat yang memunahkan seluruh pasukan Asyur. Sanherib pulang dengan malu dan akhirnya dibunuh oleh anak-anaknya sendiri. Tuhan tahu cara membela kehormatan-Nya. Saat kita menyerahkan peperangan kita ke tangan Tuhan, Dia mampu menyelesaikan masalah yang rumit sekalipun dengan cara yang tidak terpikirkan oleh kita. Kemenangan bukan karena jumlah pasukan, tetapi karena intervensi Ilahi.Setelah kemenangan besar dan kesembuhan dari sakitnya, Hizkia sempat menjadi sombong, tetapi, ia segera merendahkan diri sehingga murka Tuhan tidak menimpa zamannya. Hati-hatilah dengan kesombongan pasca-kemenangan. Tetaplah rendah hati dan ingat bahwa semua kemenangan itu murni karena anugerah Tuhan.Refleksi:Apa perbedaan antara apa yang dilihat mata jasmani dan apa yang dilihat mata rohani ketika Yehuda menghadapi ancaman Asyur?Bagaimana Hizkia menolong rakyat melihat situasi krisis dengan perspektif iman, bukan ketakutan?Mengapa doa dan kebergantungan kepada Tuhan menjadi kunci kemenangan yang tidak dapat dilihat secara lahiriah?Doa:Allah Bapa, ajarlah kami untuk tidak takut terhadap intimidasi dunia ini. Kami mau melakukan bagian kami dengan hikmat, namun kami mau bersandar sepenuhnya pada kuasa-Mu. Terima kasih karena Engkau adalah Tuhan yang berperang bagi kami. Jagalah hati kami agar selalu rendah hati, baik dalam kekurangan maupun dalam kelimpahan. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.