Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

20 September 2026

Ujian di Atas Ujian

Setelah kehilangan harta benda dan anak-anak, Ayub kini harus menghadapi penderitaan fisik yang luar biasa serta tekanan emosional dari orang terdekatnya. Iman yang sejati tidak hanya teruji saat kita kehilangan apa yang kita miliki, tetapi juga saat kita merasa kehilangan kendali atas apa yang kita rasakan secara fisik dan emosional.Iblis kembali menghadap Tuhan dan berargumen bahwa Ayub tetap setia hanya karena kesehatan fisiknya masih terjaga. Tuhan mengizinkan Iblis memukul Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya (ayat 7). Ayub kini menderita secara fisik, sosial (karena penyakit kulit sering dianggap kutukan), dan batiniah. Penderitaan sering kali datang tanpa permisi dan tanpa penjelasan. Terkadang kita merasa sudah cukup kuat menghadapi satu masalah, lalu masalah lain datang menimpa kesehatan atau kedamaian kita. Namun, ingatlah bahwa Tuhan tetap memegang kendali; Dia menetapkan batas bagi Iblis (ayat 6). Tuhan tahu kapasitas kekuatan kita, dan Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita.Istri Ayub, yang juga merasakan kehilangan yang sama, akhirnya patah arang. Ia berkata, "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Tuhanmu dan matilah!" (ayat 9). Ini adalah godaan yang sangat berat karena datang dari orang yang paling dicintai. Saat kita menderita, sering kali orang-orang di sekitar kita memberikan saran yang didasari oleh logika dunia atau kepahitan. Istri Ayub melihat kematian sebagai jalan keluar dari penderitaan, tetapi Ayub melihat kesetiaan sebagai satu-satunya jalan hidup. Jangan biarkan rasa sakit orang lain atau saran yang salah melemahkan tekad kita untuk tetap setia kepada Tuhan.Jawaban Ayub sangat luar biasa: "Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Tuhan, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" (ayat 10). Ayub memahami bahwa kedaulatan Tuhan mencakup segala musim hidup, baik musim berkat maupun musim padang gurun. Hubungan kita dengan Tuhan tidak boleh hanya didasari oleh kenyamanan. Jika kita hanya mau mengikut Tuhan saat semuanya lancar, maka kita menyembah "berkat", bukan menyembah "Allah". Iman yang dewasa mampu berkata, "Tuhan, jika Engkau mengizinkan ini terjadi, aku percaya Engkau tetap Tuhan yang baik dan berdaulat."Tiga sahabat Ayub datang untuk menghibur. Melihat penderitaan Ayub yang begitu hebat, mereka duduk bersamanya di tanah selama tujuh hari tujuh malam tanpa mengucapkan sepatah kata pun (ayat 13). Kadang-kadang, kehadiran lebih berarti daripada kata-kata. Saat melihat orang lain menderita, kita sering merasa harus memberi nasihat atau penjelasan teologis. Jadilah sahabat yang bersedia "duduk di debu" bersama mereka yang berduka, tanpa menghakimi atau menceramahi.Refleksi:Bagaimana perkataan istri Ayub mencerminkan suara keputusasaan yang bisa muncul dalam penderitaan?Mengapa Ayub menolak mengutuki Tuhan, meskipun tubuh dan martabatnya hancur?Apa perbedaan antara mempertahankan iman dan menekan emosi?Doa:Allah Bapa, kuatkanlah kami saat tubuh kami lemah dan jiwa kami lelah. Ajarlah kami untuk tetap memegang kesalehan kami bahkan ketika kami tidak memahami mengapa hal buruk terjadi. Kami mau belajar menerima segala musim dari tangan-Mu dengan ucapan syukur. Berikanlah kami juga hati yang empati untuk mendampingi mereka yang sedang menderita di sekitar kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

19 September 2026

Iman yang Melampaui Berkat

Kitab Ayub, sebuah kitab yang menyelami pertanyaan terdalam manusia: Mengapa orang benar menderita? Sebuah kontras yang tajam, dari puncak kebahagiaan dan kekayaan menuju lembah penderitaan yang sangat kelam dalam sekejap waktu. Kesalehan yang sejati tidak diuji saat kita menerima berkat, melainkan saat kita kehilangan segalanya namun tetap memegang tangan Tuhan.Ayub digambarkan sebagai orang yang "saleh dan jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan" (ayat 1). Ia memiliki keluarga yang harmonis dan kekayaan yang luar biasa (ayat 2-3). Namun, yang menarik adalah kehidupan rohaninya: ia rutin mempersembahkan korban bagi anak-anaknya, berjaga-jaga kalau-kalau mereka berdosa dalam hati (ayat 5). Sering kali, kelimpahan membuat manusia menjadi suam-suam kuku secara rohani dan bahkan lupa dengan Sang Sumber berkat. Ayub mengajarkan kita bahwa kesuksesan finansial tidak boleh menggantikan disiplin rohani. Apakah kesibukan dan kenyamanan kita saat ini membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, atau justru membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan-Nya?Di alam surgawi, Iblis menuduh bahwa Ayub saleh hanya karena Tuhan "memagari" dan memberkatinya (ayat 9-10). Iblis berargumen: "Ambillah segalanya, maka ia akan mengutuki Engkau." Tuhan mengizinkan ujian itu terjadi untuk membuktikan bahwa iman Ayub bukanlah iman “transaksional". Mengapa kita mengikut Tuhan? Apakah kita mengasihi Tuhan karena apa yang Dia berikan (berkat, kesehatan, perlindungan), atau karena siapa Dia adanya? Iman yang dewasa adalah iman yang tetap mengasihi Tuhan bahkan ketika "pagar" perlindungan seolah dilepaskan dan keadaan menjadi sangat sulit.Dalam satu hari, Ayub kehilangan segalanya: ternaknya dirampas, hamba-hambanya dibunuh, dan puncaknya, kesepuluh anaknya tewas karena bencana alam (ayat 13-19). Dunia Ayub runtuh dalam hitungan jam. Berita buruk datang tanpa memberi jeda untuk bernapas. Dunia ini tidak pasti, namun Tuhan tetap berdaulat. Terkadang hidup menghantam kita dengan keras dan bertubi-tubi. Dalam situasi seperti itu, sangat manusiawi untuk merasa hancur. Ayub pun menunjukkan kesedihannya dengan mengoyak jubah dan mencukur rambut (ayat 20). Tuhan tidak melarang kita berduka, namun yang penting adalah ke mana kita membawa duka itu.Respons Ayub sangat mengejutkan. Alih-alih mengutuki Tuhan seperti ramalan Iblis, Ayub sujud menyembah dan berkata: "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (ayat 21). Ia mengakui bahwa manusia lahir tanpa membawa apa-apa, dan segala sesuatu adalah milik Tuhan. Penyembahan adalah keputusan, bukan sekadar perasaan. Menyembah saat diberkati itu mudah, tetapi menyembah saat kehilangan segalanya adalah kemenangan iman yang luar biasa. Ayub membuktikan bahwa hubungannya dengan Tuhan jauh lebih berharga daripada semua miliknya.Refleksi:Apa arti bahwa iman Ayub diuji justru ketika ia hidup benar?Apa yang paling sulit bagi kita dalam menerima bahwa Tuhan tetap berdaulat di tengah penderitaan?Apa perbedaan antara menyembah Tuhan karena berkat-Nya dan menyembah Tuhan karena siapa Dia?Doa:Allah Bapa, terima kasih atas teladan iman Ayub. Ajarlah kami untuk mengasihi-Mu bukan karena berkat-Mu saja, tetapi karena Engkau adalah Tuhan kami yang layak disembah dalam segala keadaan. Kuatkanlah hati kami saat badai hidup datang bertubi-tubi, agar kami tetap bisa berkata bahwa Engkau baik. Biarlah iman kami tetap murni dan memuliakan nama-Mu, baik di masa kelimpahan maupun di masa kekurangan. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.