Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

30 Oktober 2026

Kekekalan di Dalam Hati

Salomo membawa kita memahami bahwa hidup bukanlah kekacauan tanpa arah, melainkan sebuah tatanan yang diatur oleh tangan Tuhan. Di sini kita belajar untuk berdamai dengan musim-musim hidup yang sering kali tidak bisa kita kendalikan. Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dengan mencoba menghentikan waktu, tetapi dengan mempercayai Dia yang memegang waktu.Salomo memaparkan pasangan peristiwa yang kontras: ada waktu untuk lahir dan mati, menanam dan mencabut, meratap dan menari, perang dan damai. Pesannya jelas: Tidak ada musim yang abadi. Jangan menghakimi hidup kita hanya berdasarkan satu musim. Jika hari ini kita berada dalam waktu "meratap", ingatlah bahwa waktu "menari" akan datang. Sebaliknya, jika kita sedang dalam waktu "menanam", janganlah sombong, karena akan ada waktu untuk "mencabut". Tuhan tidak membuat hidup kita datar. Ia menggunakan kontras, suka dan duka, untuk membentuk karakter kita. Terimalah musim yang sedang kita jalani sekarang sebagai bagian dari desain besar Tuhan."Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka." Meskipun kita hidup di dalam waktu yang terbatas, Tuhan menaruh kerinduan akan sesuatu yang abadi di dalam jiwa kita. Itulah sebabnya manusia tidak pernah benar-benar puas dengan hal-hal duniawi. Keresahan kita adalah bukti bahwa kita diciptakan untuk surga. Kita sering frustrasi karena tidak paham apa yang Tuhan lakukan dari awal sampai akhir. Namun, "ketidakpahaman" itu justru seharusnya membawa kita untuk bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Percayalah, meskipun hari ini tampak berantakan, Tuhan sedang menenun sesuatu yang indah yang hanya bisa kita lihat secara utuh di dalam kekekalan nanti.Di tengah ketidakpastian waktu, Salomo memberikan nasehat praktis: berbuat baik dan menikmati hasil jerih payah. Ia menegaskan bahwa kemampuan untuk menikmati hidup adalah pemberian Tuhan, dan apa yang dilakukan Tuhan akan tetap ada untuk selamanya. Hiduplah di saat ini (Present). Jangan terlalu mencemaskan masa depan atau menyesali masa lalu hingga kita lupa menikmati berkat Tuhan hari ini. Makanlah dengan syukur, bekerjalah dengan tulus, dan jadilah berkat bagi orang lain. Kekhawatiran tidak akan mempercepat waktu Tuhan, tetapi syukur akan membuat waktu tunggu kita menjadi manis.Salomo melihat ketidakadilan di dunia, di mana seharusnya ada keadilan, justru ada kefasikan. Ia merenungkan bahwa pada akhirnya manusia dan hewan sama-sama kembali menjadi debu. Namun, ini bukan seruan keputusasaan, melainkan seruan untuk berserah pada penghakiman Tuhan yang adil pada waktunya. Tuhan adalah Hakim yang memegang kendali. Jika kita merasa diperlakukan tidak adil hari ini, ingatlah bahwa ada "waktu untuk setiap urusan dan setiap perbuatan" di hadapan Tuhan (ayat 17). Kematian adalah pengingat agar kita tetap rendah hati dan tidak menggantungkan harapan pada keadilan manusia yang rapuh, melainkan pada keadilan Tuhan yang kekal.Refleksi:Bagaimana kita memahami kenyataan bahwa setiap hal memiliki waktunya masing-masing dalam hidup?Apa artinya bagi kita bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya?Bagaimana memahami pernyataan bahwa Tuhan menaruh kekekalan dalam hati manusia?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena hidup kami berada di dalam kalender-Mu, bukan di dalam kebetulan. Berikanlah kami ketenangan untuk menjalani musim hidup kami saat ini tanpa mengeluh. Ajarlah kami untuk mempercayai waktu-Mu yang sempurna, karena kami tahu Engkau sedang mengerjakan sesuatu yang indah bagi kami. Biarlah hati kami tetap terpaku pada kekekalan-Mu di tengah dunia yang terus berubah ini. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

29 Oktober 2026

Ketika "Segalanya" Masih Terasa Kurang

Sang Pengkhotbah (Salomo) melakukan sebuah "eksperimen hidup" yang sangat ekstrem. Ia memiliki segala sumber daya untuk mencoba segala sesuatu yang diinginkan manusia: tawa, hiburan, kemewahan, proyek bangunan raksasa, hingga kekayaan yang tak terhitung. Namun, kesimpulannya tetap sama: semuanya adalah "kejaran angin.” Kepuasan sejati tidak ditemukan dalam apa yang kita kumpulkan untuk diri sendiri, melainkan dalam kemampuan untuk menikmati setiap pemberian Tuhan dengan ucapan syukur.Salomo mencoba menghibur dirinya dengan anggur, membangun istana, menanam kebun dan taman yang indah, serta mengumpulkan perak dan emas. Ia tidak menahan matanya dari apa pun yang diinginkannya. Namun, ketika ia melihat kembali segala pekerjaan yang dilakukan tangannya, ia menyadari bahwa segalanya sia-sia. Kesuksesan lahiriah tidak menjamin ketenangan batin. Kita sering berpikir, "Kalau saja aku punya rumah itu, jabatan itu, atau saldo bank sekian, aku akan puas." Salomo membuktikan bahwa "memiliki segalanya" justru sering kali memperjelas kehampaan hati. Pencapaian tanpa kehadiran Tuhan di dalamnya hanyalah sebuah monumen bagi ego kita yang akan segera terlupakan. Jangan biarkan hidup kita habis hanya untuk membangun "kerajaan kecil" yang fana.Salomo merenungkan bahwa meskipun hikmat lebih baik daripada kebebalan, pada akhirnya nasib orang berhikmat dan orang bebal adalah sama: keduanya akan mati. Pemikiran ini membuat Salomo sempat "membenci hidup" karena ia merasa segala jerih payahnya tidak akan dibawa mati. Hiduplah dengan perspektif kekekalan. Kematian adalah pengingat bahwa kita tidak bisa membawa apa pun dari dunia ini. Jika kita hanya hidup untuk dunia, maka kematian adalah sebuah tragedi. Namun, jika kita hidup untuk Tuhan, kematian adalah pintu menuju pemenuhan janji-Nya. Jangan terjebak dalam rasa putus asa akan kefanaan hidup, tetapi gunakanlah waktu yang singkat ini untuk menanam sesuatu yang bernilai kekal.Salomo merasa sedih karena segala hasil jerih payahnya akan ditinggalkan kepada orang yang datang sesudahnya, yang mungkin tidak menghargainya atau bahkan menghamburkannya. Ia melihat betapa sia-sianya bekerja keras siang malam hingga tidak bisa tidur, hanya untuk sesuatu yang tidak pasti. Kerja keras adalah berkat, tetapi ambisi yang berlebihan adalah beban. Tuhan ingin kita bekerja dengan rajin, tetapi Ia tidak ingin kita menjadi "budak" dari pekerjaan kita sendiri. Jika pekerjaan kita merampas kedamaian, kesehatan, dan waktu kita dengan Tuhan, berarti ada yang salah dengan motivasi kita. Ingatlah bahwa kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.Di akhir pasal ini, Salomo menemukan secercah cahaya. Ia menyadari bahwa kemampuan untuk makan, minum, dan menikmati hasil jerih payah adalah pemberian tangan Tuhan. Tanpa Tuhan, tidak ada orang yang dapat makan atau merasakan kesenangan. Kebahagiaan adalah soal perspektif, bukan akumulasi. Kemampuan untuk menikmati secangkir kopi di pagi hari atau waktu bersama keluarga adalah karunia dari Tuhan. Orang yang benar di mata Tuhan akan diberikan hikmat untuk menikmati apa yang ada padanya. Sebaliknya, orang fasik mungkin mengumpulkan banyak, tetapi tidak pernah bisa menikmatinya. Belajarlah untuk berkata, "Cukup," dan bersyukurlah atas setiap hal kecil yang Tuhan berikan hari ini.Refleksi:Apakah kerja keras dan pencapaian kita benar-benar memberi makna, atau hanya kesibukan yang melelahkan?Bagaimana kita menyikapi kenyataan bahwa hasil jerih payah kita suatu hari akan diwariskan kepada orang lain?Apa perbedaan antara menikmati berkat Tuhan dan menjadikan berkat itu sebagai tujuan utama hidup?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika kami sering mencari kepuasan di luar Engkau. Kami sadar bahwa segala pencapaian duniawi tidak akan pernah bisa mengisi ruang kosong dalam hati kami yang hanya bisa diisi oleh kehadiran-Mu. Ajarlah kami untuk bekerja dengan rajin namun tetap tenang, dan berikanlah kami hikmat untuk menikmati setiap berkat kecil yang Engkau berikan hari ini dengan hati yang bersyukur. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.