Selamat datang di GKY Gerendeng!
Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Visi dan Misi Gereja
Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.
Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.
CREED
QT Terbaru
5 Agustus 2026
Tidak Konsisten
Pemerintahan Amazia, raja Yehuda adalah potret klasik tentang seseorang yang memiliki ketaatan setengah hati dan bagaimana kesuksesan yang tidak dikelola dengan kerendahan hati dapat menjadi jerat penghancur. Kehidupan Amazia dimulai dengan sebuah catatan sekaligus menjadi peringatan: "Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, hanya tidak dengan segenap hati".Ketika hendak berperang melawan Edom, Amazia menyewa 100.000 pahlawan dari Israel (Utara) dengan membayar 100 talenta perak. Namun, seorang abdi Tuhan melarangnya karena Tuhan tidak menyertai Israel. Amazia sempat bimbang karena ia sudah mengeluarkan banyak uang. Pesan abdi Tuhan: "TUHAN dapat memberikan lebih dari pada itu kepadamu!". Amazia akhirnya taat dan melepaskan pasukan sewaan itu meskipun rugi secara finansial.Apakah ketaatan kita kepada Tuhan masih bergantung pada untung-rugi? Sering kali kita sulit melakukan yang benar karena merasa sudah "berinvestasi" terlalu banyak pada hal yang salah. Ingatlah, ketaatan tidak pernah membuat kita merugi. Tuhan sanggup mengganti apa pun yang kita lepaskan demi menuruti perintah-Nya dengan jauh lebih melimpah.Amazia meraih kemenangan besar atas Edom. Namun, tragisnya, sekembalinya dari pertempuran, ia justru membawa dewa-dewa orang Edom dan menyembahnya. Ia mengadopsi dewa-dewa dari bangsa yang baru saja ia kalahkan. Hati-hatilah dengan apa yang kita bawa pulang dari sebuah kesuksesan. Sering kali, setelah kita "menang" (sukses dalam karier atau bisnis), kita mulai mengadopsi nilai-nilai dunia (kesombongan, gaya hidup fasik, ketergantungan pada uang) yang sebenarnya sudah kita kalahkan sebelumnya. Kesuksesan tanpa iman yang segenap hati akan membuat kita menyembah berhala-berhala baru.Karena merasa kuat setelah mengalahkan Edom, Amazia menjadi sombong dan menantang raja Israel untuk berperang. Meskipun sudah diperingatkan melalui perumpamaan tentang duri dan pohon aras, Amazia tetap keras kepala. Akibatnya, ia kalah telak, tembok Yerusalem dibongkar, dan perbendaharaan rumah Tuhan dirampas. Keangkuhan mendahului kehancuran. Ketika kita mulai berhenti mendengar nasihat dan merasa paling benar karena merasa sudah sukses, di situlah kita sedang berjalan menuju tepi jurang. Hati yang tulus akan selalu tetap terbuka pada teguran, sehebat apa pun pencapaian kita.Sama seperti ayahnya (Yoas), Amazia menjauh dari Tuhan di masa tuanya. Hidupnya berakhir melalui persepakatan orang-orang yang memberontak terhadapnya.Refleksi:Mengapa Amazia mau menaati firman Tuhan dalam satu hal, tetapi mengabaikannya dalam hal lain?Mengapa keberhasilan rohani atau militer bisa menjadi bahaya jika tidak disertai kerendahan hati?Apa hubungan antara ketidaktaatan yang berulang dan kehancuran yang dialami Amazia di akhir hidupnya?Doa:Allah Bapa, kami tidak mau memiliki hati yang mendua. Berikanlah kami keberanian untuk taat sepenuhnya kepada-Mu, meskipun secara manusiawi kami terlihat merugi. Jagalah hati kami agar tetap rendah hati di masa-masa kesuksesan kami, dan jangan biarkan kami berpaling pada dewa-dewa dunia ini. Kami mau mengikut-Mu dengan segenap hati kami sampai akhir. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
4 Agustus 2026
Iman yang Mandiri
Perjalanan hidup Raja Yoas sangat kontras antara masa muda dan masa tuanya. Yoas memulai pemerintahannya dengan luar biasa. Ia adalah raja yang memprakarsai perbaikan Bait Tuhan yang telah dirusak oleh keluarga Atalya. Namun, akhir hidupnya menjadi peringatan keras bagi setiap kita. "Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN selama hidup imam Yoyada." Selama ada Yoyada yang membimbing, menasihati, dan menjaganya, Yoas berjalan di jalan yang lurus. Ia bahkan sangat bersemangat mengumpulkan dana untuk memperbaiki rumah Tuhan.Memiliki mentor rohani adalah berkat, tetapi iman kita tidak boleh bergantung sepenuhnya pada mereka. Banyak orang terlihat "rohani" selama mereka berada di lingkungan yang baik atau didampingi orang tua/pemimpin yang saleh. Namun, ujian iman yang sesungguhnya adalah saat "Yoyada" kita tidak ada lagi. Apakah kita tetap mencari Tuhan saat tidak ada yang mengawasi kita?Tragedi dimulai setelah Yoyada wafat. Para pembesar Yehuda datang dan membujuk raja. Tanpa prinsip yang kuat di dalam hatinya sendiri, Yoas dengan mudah menyerah pada pengaruh mereka. Mereka meninggalkan rumah Tuhan dan mulai menyembah tiang-tiang berhala. Hati-hatilah dengan suara yang kita dengar saat kita sedang merasa kehilangan atau sendirian. Sering kali musuh mengirimkan "pembesar" (teman atau pengaruh buruk) tepat saat pelindung rohani kita tidak ada. Tanpa akar iman yang dalam, kita akan mudah hanyut oleh arus pendapat mayoritas yang menjauhkan kita dari Tuhan.Tuhan sangat pengasih; Ia mengirimkan nabi-nabi untuk memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarkan. Bahkan ketika Zakharia, anak Yoyada (sepupu raja sendiri), menegur Yoas dengan kuasa Roh Tuhan, Yoas justru memerintahkan untuk merajamnya sampai mati. Jangan biarkan hati kita membatu terhadap teguran. Yoas melupakan kebaikan Yoyada dan justru membunuh anaknya. Ketika seseorang kehilangan hubungan dengan Tuhan, ia juga kehilangan moralitas dan rasa terima kasihnya. Jika hari ini Tuhan menegur kita, sekeras apa pun itu, terimalah dengan syukur, karena itu adalah tanda bahwa Ia masih menyayangi kita.Akhir hidup Yoas sangat menyedihkan. Meskipun pasukan Aram yang menyerang berjumlah kecil, mereka mampu mengalahkan pasukan Yehuda yang besar karena Yehuda telah meninggalkan Tuhan. Yoas akhirnya mati dibunuh oleh pegawainya sendiri di atas tempat tidurnya. Penyertaan Tuhan adalah rahasia kekuatan kita. Tanpa Dia, kita menjadi rentan terhadap serangan terkecil sekalipun. Kesuksesan di masa lalu tidak menjamin keamanan di masa depan jika kita memutuskan untuk berjalan sendiri.Refleksi:Bagaimana perubahan sikap Yoas setelah kematian Yoyada menyingkapkan kondisi iman yang tidak mandiri?Sejauh mana iman kita berdiri atas pengenalan pribadi akan Tuhan, bukan sekadar pengaruh orang lain?Mengapa Tuhan menilai kesetiaan yang berkelanjutan, bukan hanya ketaatan di awal perjalanan iman?Doa:Allah Bapa, kami mau membangun akar iman kami dalam-dalam di dalam Engkau. Jangan biarkan kerohanian kami hanya menjadi tumpangan pada orang lain. Berikan kami hati yang teguh untuk tetap setia kepada-Mu, bahkan saat pengaruh dunia mencoba membujuk kami. Ajarlah kami untuk selalu memiliki telinga yang mau mendengar teguran-Mu agar kami tidak menyimpang dari jalan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT