Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

2 Oktober 2026

Kesombongan Intelektual

Elifas kembali berbicara, namun kali ini keramahannya di awal sudah hilang sama sekali. Ia merasa tersinggung karena Ayub tidak menerima "hikmatnya". Elifas beralih dari seorang penasihat menjadi seorang penuduh yang penuh amarah. Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih dan kerendahan hati tidak akan pernah memulihkan jiwa, melainkan hanya akan menambah luka.Elifas menuduh Ayub hanya mengeluarkan "pengetahuan angin" dan berbicara tanpa guna. Ia merasa kata-kata Ayub yang penuh keluhan telah merusak rasa takut akan Tuhan. Elifas menyimpulkan bahwa karena mulut Ayub mengeluarkan keluhan, maka itu adalah bukti bahwa Ayub bersalah. Hati-hatilah saat menilai iman seseorang dari cara mereka bergumul. Elifas menganggap bahwa orang beriman tidak boleh mengeluh atau bertanya. Namun, sering kali kejujuran dalam kesesakan adalah bentuk iman yang paling dalam. Jangan cepat melabeli orang yang sedang berteriak dalam rasa sakitnya sebagai "kurang beriman". Tuhan lebih mengerti bahasa air mata daripada bahasa teologi.Elifas menyerang Ayub dengan pertanyaan sarkastis: "Apakah engkau orang pertama yang lahir? ... Apakah engkau mendengarkan rahasia Tuhan?" Elifas merasa bahwa hikmatnya, yang didukung oleh "orang beruban dan orang yang sangat tua," jauh lebih benar daripada argumen Ayub. Pengalaman dan usia tidak selalu berarti kebenaran mutlak. Elifas terjebak dalam rasa senioritas rohani. Kita bisa saja memiliki pengetahuan Alkitab yang luas atau pengalaman bertahun-tahun di gereja, namun jika itu membuat kita merasa "paling tahu" tentang rencana Tuhan bagi orang lain, kita sedang jatuh dalam kesombongan. Tetaplah rendah hati; Tuhan sering bekerja dengan cara yang tidak bisa dibaca oleh logika manusia mana pun.Di bagian kedua ini, Elifas memberikan deskripsi panjang tentang nasib orang fasik: mereka selalu ketakutan, hidup dalam kegelapan, dan kekayaan mereka tidak akan tetap. Ia mencoba menakut-nakuti Ayub dengan gambaran-gambaran mengerikan tentang kehancuran orang yang melawan Tuhan. Kebenaran yang digunakan untuk menyerang, bukan untuk membangun. Deskripsi Elifas tentang nasib orang fasik mungkin ada benarnya, tetapi dalam konteks ini, ia sedang menggunakannya sebagai senjata untuk menghakimi Ayub. Jika tujuan kita berbicara adalah untuk membuktikan kita benar dan orang lain salah, maka kita telah gagal mengasihi. Nasihat yang baik seharusnya membawa orang kembali kepada harapan di dalam Tuhan, bukan membuat mereka semakin terpuruk dalam ketakutan.Elifas menutup dengan mengatakan bahwa orang yang percaya kepada kesia-siaan akan menuai kesia-siaan. Segala rencana jahat mereka akan melahirkan bencana. Ironisnya, Elifas sendiri sedang melakukan hal yang sia-sia: ia mencoba "membantu" Tuhan dengan cara menghancurkan semangat sahabatnya yang sedang menderita. Marilah kita memeriksa diri: apakah ucapan dan tindakan kita hari ini membangun kehidupan, atau justru sedang "menabur kesusahan" bagi orang lain yang sedang tertatih?Refleksi:Mengapa mudah bagi kita menganggap diri lebih bijaksana hanya karena usia, tradisi, atau pengalaman?Bagaimana kesombongan intelektual dapat menghalangi empati dan pengertian yang tulus?Apa bahaya berbicara tentang Tuhan dengan keyakinan tinggi tetapi hati yang tidak lembut?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika kami sering menjadi hakim bagi sesama kami dan menggunakan kebenaran-Mu sebagai alat untuk melukai. Berikanlah kami hikmat yang disertai dengan kasih dan kelembutan hati. Saat kami tidak memahami pergumulan orang lain, ajarlah kami untuk diam dan berdoa, bukan bicara dan menghakimi. Biarlah hidup kami memancarkan rahmat-Mu, bukan kebenaran yang dingin. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

1 Oktober 2026

Kerapuhan Hidup

Ayub merenungkan betapa singkat, rapuh, dan terbatasnya hidup ini. Di tengah rasa sakitnya, ia bergumul dengan sebuah pertanyaan besar: Jika manusia mati, dapatkah ia hidup kembali? Hidup manusia mungkin terlihat seperti bunga yang layu, tetapi di tangan Tuhan, ada harapan yang melampaui kematian.Ayub menggambarkan manusia dengan sangat puitis namun tragis: "Ia mekar seperti bunga, lalu layu; ia melayang seperti bayang-bayang dan tidak menetap." Hidup manusia telah ditentukan batasnya oleh Tuhan, dan tidak ada yang bisa melampaui ketetapan itu. Kesadaran akan singkatnya hidup seharusnya membuat kita bijak. Kita sering hidup seolah-olah kita memiliki waktu selamanya di dunia ini, mengejar hal-hal fana hingga lupa pada kekekalan. Ayub mengingatkan bahwa hidup kita hanyalah sebuah "mampir minum". Kesadaran ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan agar kita mengisi setiap detik yang dipinjamkan Tuhan dengan hal-hal yang bernilai kekal.Ayub membuat perbandingan yang menyedihkan. Sebuah pohon, jika ditebang, masih memiliki harapan untuk bertunas kembali melalui air. Namun manusia, jika ia mati, ia terbaring dan tidak bangun lagi sampai langit lenyap. Secara kasat mata, manusia tampak lebih rendah nasibnya daripada sebatang pohon. Secara manusiawi, maut adalah akhir, tetapi Tuhan punya rencana lain. Ayub berbicara dari perspektif sebelum adanya kejelasan tentang kebangkitan. Namun bagi kita yang hidup di dalam Kristus, kita tahu bahwa "Pohon Kehidupan" yang sejati (Yesus) telah ditebang di Kalvari agar kita yang mati secara rohani dapat bertunas kembali. Harapan kita tidak lagi bergantung pada hukum alam, melainkan pada kemenangan Kristus atas maut.Di tengah keputusasaannya, muncul kilatan harapan. Ayub bertanya, "Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup kembali?" (ayat 14). Ia merindukan waktu di mana Tuhan akan "memanggil" dan dia akan "menjawab", di mana Tuhan tidak lagi menghitung-hitung dosanya melainkan membungkus pelanggarannya dalam sebuah pundi-pundi. Tuhan merindukan hubungan dengan ciptaan-Nya. Kalimat Ayub, "Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu" (ayat 15), menunjukkan sebuah kebenaran agung: Tuhan tidak menciptakan kita untuk kemudian membuang kita begitu saja. Dia mengasihi kita. Pundi-pundi yang membungkus dosa yang dirindukan Ayub kini telah digenapi di dalam pengorbanan Yesus. Dosa kita tidak lagi dihitung karena darah-Nya telah menutupinya.Ayub menutup pasalnya dengan pengamatan bahwa bahkan gunung pun bisa runtuh dan batu kersani bisa terkikis oleh air. Begitu pulalah harapan manusia secara lahiriah akan terkikis oleh usia dan penderitaan. Tubuh kita akan merasa sakit dan jiwa kita akan berduka. Jangan menaruh harapan pada apa yang bisa terkikis, kesehatan, kecantikan, dan kekuatan fisik kita adalah "batu" yang perlahan akan terkikis oleh waktu. Jika harapan kita diletakkan pada hal-hal duniawi, kita akan berakhir dalam duka. Taruhlah harapan kita pada Dia yang tidak berubah oleh waktu, yaitu Tuhan yang kekal.Refleksi:Bagaimana gambaran hidup manusia sebagai “singkat dan penuh kesusahan” menolong kita melihat realitas hidup dengan jujur?Apa pertanyaan terdalam tentang kematian dan kehidupan setelahnya?Bagaimana kita dapat memegang harapan di tengah kenyataan bahwa hidup terasa rapuh dan tidak pasti?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkau adalah sumber harapan kami. Kami sadar bahwa hidup kami di dunia ini singkat dan rapuh seperti bunga di padang. Ajarlah kami untuk menghitung hari-hari kami sedemikian rupa sehingga kami beroleh hati yang bijaksana. Terima kasih karena Engkau tidak menghitung dosa kami, melainkan telah menebus kami. Biarlah di tengah tubuh yang mulai lemah, jiwa kami tetap kuat karena berpegang pada janji kekekalan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.