Selamat datang di GKY Gerendeng!
Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Visi dan Misi Gereja
Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.
Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.
CREED
QT Terbaru
27 Juni 2026
Ibadah dengan Cara Tuhan
Setelah kegagalan yang tragis, Daud tidak menyerah, melainkan ia belajar dari kesalahannya. Ia menyadari bahwa semangat saja tidak cukup; penyembahan harus dilakukan sesuai dengan ketetapan Allah. Perjalanan membawa Tabut Allah kali ini sangat berbeda dengan sebelumnya. Tidak ada lagi kereta baru yang ditarik lembu; kali ini yang ada adalah ketaatan yang tulus dan sukacita yang meluap.Daud mengakui kesalahan masa lalunya dengan berkata, "Sebab karena kamu tidak hadir pada waktu yang pertama, maka TUHAN, Allah kita, telah menyambar kita, sebab kita tidak mencari Dia menurut hukum-Nya". Kali ini, Daud memastikan bahwa orang Lewi-lah yang memikul Tabut itu di atas bahu mereka, persis seperti yang diperintahkan Musa. Semangat yang meluap-luap dalam melayani Tuhan harus dibarengi dengan pemahaman akan Firman-Nya. Kita tidak bisa menciptakan aturan sendiri dalam menyembah Allah. Ibadah yang sejati adalah ketika hati yang bersemangat bertemu dengan ketaatan pada kebenaran.Sebelum memikul Tabut, para imam dan orang Lewi harus menguduskan diri. Kehadiran Allah adalah sesuatu yang kudus, sehingga mereka yang melayani-Nya harus menjaga kekudusan hidup. Selain itu, Daud mengatur para penyanyi dan pemain musik dengan sangat detail untuk memimpin puji-pujian. Pelayanan membutuhkan persiapan, baik secara teknis maupun spiritual. Tuhan layak menerima yang terbaik dari kita. Pelayanan bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan sebuah tanggung jawab kudus yang memerlukan persiapan hati dan talenta.Puncak dari perjalanan ini adalah sukacita yang luar biasa. Daud menari-nari dengan sekuat tenaga di hadapan Tuhan. Namun, ada kontras yang menyedihkan: Mikhal, istri Daud, memandang rendah Daud dari jendela karena dianggap tidak menjaga martabatnya sebagai raja. Kadangkala rasa gengsi atau takut akan penilaian orang lain menghalangi kita untuk menyembah Tuhan dengan bebas. Sukacita Daud bersumber dari perkenanan Tuhan, bukan pujian manusia. Jangan biarkan "jendela Mikhal", suara-suara penghakiman di sekitar kita, memadamkan api penyembahan kita kepada Tuhan.Refleksi:Mengapa Daud menekankan kekudusan orang Lewi sebelum mereka melayani?Bagaimana peran musik dan ekspresi sukacita ditempatkan dalam kerangka ketaatan, bukan sekadar emosi?Bagaimana bagian ini menolong kita menyeimbangkan rasa hormat dan sukacita dalam ibadah?Doa:Allah Bapa, terima kasih untuk pengingat hari ini. Ajarlah kami untuk selalu mengutamakan ketaatan di atas segala bentuk persembahan kami. Biarlah hati kami selalu kudus di hadapan-Mu dan biarlah penyembahan kami lahir dari sukacita yang tulus karena hadirat-Mu, tanpa rasa takut akan penilaian dunia. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
26 Juni 2026
Melangkah dalam Irama Tuhan
Setelah kegagalan saat memindahkan Tabut, Daud belajar sebuah pelajaran penting: ia tidak boleh melangkah sendirian. Di bagian ini, kita melihat pola hidup seorang pemimpin yang menempatkan Tuhan sebagai Panglima tertingginya. Daud mengerti bahwa Tuhan telah meneguhkan jabatannya sebagai raja "oleh karena umat-Nya Israel". Daud tidak melihat kesuksesannya sebagai hasil kerja keras untuk kepentingan pribadinya. Ia sadar bahwa ia diberkati agar ia bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain.Seringkali kita mengejar kesuksesan untuk kenyamanan diri sendiri. Namun, melalui Daud kita diingatkan bahwa setiap jabatan, kekayaan, atau pengaruh yang Tuhan berikan kepada kita adalah titipan untuk melayani sesama.Ketika orang Filistin menyerang, Daud tidak langsung maju meskipun ia adalah seorang pahlawan perang yang berpengalaman. Ia bertanya kepada Tuhan dan, Tuhan memberikan kemenangan besar di Baal-Perasim. Namun, yang menarik adalah saat orang Filistin menyerang untuk kedua kalinya, Daud bertanya lagi kepada Allah. Ia tidak mengasumsikan bahwa strategi yang berhasil kemarin akan berhasil lagi hari ini. Ia tahu bahwa setiap tantangan membutuhkan petunjuk baru dari Tuhan.Tuhan memberikan instruksi yang sangat spesifik pada serangan kedua: "Janganlah maju di belakang mereka... apabila engkau mendengar bunyi derap langkah di puncak pohon-pohon murbei, maka haruslah engkau keluar bertempur”. Daud harus menunggu "suara langkah" Tuhan. Ini berbicara tentang ketepatan waktu Tuhan. Seringkali kita gagal bukan karena kita kurang bekerja keras, tetapi karena kita kurang sabar menunggu waktu Tuhan. Kita harus peka mendengar "bunyi derap langkah" Roh Kudus sebelum kita mengambil keputusan besar.Refleksi:Mengapa Tuhan memberi petunjuk yang berbeda untuk situasi yang tampaknya sama (dua peperangan melawan Filistin)?Bagaimana kita bisa membedakan antara dorongan pribadi dan tuntunan Tuhan dalam keputusan sehari-hari?Langkah konkret apa yang dapat kita ambil hari ini untuk menyelaraskan langkah hidup kita dengan irama Tuhan?Doa:Allah Bapa, ajarlah kami untuk selalu rendah hati dan bertanya kepada-Mu dalam setiap langkah hidup kami. Kami tidak ingin melangkah dengan kekuatan kami sendiri. Berikanlah kami kepekaan untuk mendengar suara-Mu dan kesabaran untuk menunggu waktu-Mu yang sempurna. Pakailah hidup kami agar menjadi berkat bagi sesama kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT