Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

21 Oktober 2026

Memandang Langit, Menemukan Perspektif

Elihu menanggapi salah satu pernyataan Ayub: "Apakah untungnya bagi seseorang, kalau ia dikenan Tuhan?" (Ayub 34:9). Ayub merasa bahwa kesalehannya sia-sia karena ia tetap menderita. Elihu menjawab dengan mengajak Ayub memandang ke langit untuk memahami jarak antara keterbatasan manusia dan keagungan Tuhan. Ibadah kita tidak menambah apa pun bagi Tuhan, tetapi ketaatan kita menentukan seberapa besar kita dapat merasakan kehadiran-Nya di tengah badai.Elihu menantang logika Ayub yang merasa kesalehannya memberikan "keuntungan" bagi Tuhan. Elihu berkata, "Pandanglah ke langit dan lihatlah... Jika engkau berbuat dosa, apa yang kau lakukan terhadap Dia? Jika engkau benar, apakah yang kau berikan kepada-Nya?” Sering kali kita merasa Tuhan berhutang kepada kita karena kita sudah rajin melayani, memberi persepuluhan, atau hidup kudus. Kita berpikir ketaatan kita adalah "investasi" yang mewajibkan Tuhan memberi imbalan kenyamanan. Namun, Elihu mengingatkan bahwa Tuhan tetap Tuhan dengan atau tanpa ketaatan kita. Kesalehan kita bermanfaat bagi manusia (sesama) dan diri kita sendiri, tetapi bukan sebuah jasa yang bisa digunakan untuk mendikte Tuhan.Elihu menjelaskan mengapa banyak orang berteriak minta tolong tetapi tidak dijawab oleh Tuhan. Ia berkata mereka berteriak karena penindasan, tetapi tidak ada yang bertanya: "Di manakah Tuhan, Penciptaku, yang memberi nyanyian pujian di malam hari?" Mereka berdoa karena sakitnya, bukan karena rindu kepada Sang Pencipta. Fokuslah pada Sang Pencipta, bukan sekadar pada penderitaan. Banyak dari kita hanya mencari Tuhan sebagai "Pelepas Masalah", bukan sebagai "Tuhan atas hidup". Kita berteriak karena ingin penderitaan hilang, tetapi hati kita tetap sombong dan tidak mau tunduk. Tuhan merindukan kita mencari wajah-Nya, bukan hanya tangan-Nya. Mintalah kepada-Nya "nyanyian di malam hari", kekuatan untuk memuji-Nya bahkan sebelum masalah kita selesai.Ayub mengeluh bahwa ia tidak bisa melihat Tuhan. Elihu menjawab bahwa meskipun Ayub merasa tidak melihat-Nya, "perkaranya sudah ada di hadapan-Nya; sebab itu nantikanlah Dia!" Elihu menegur Ayub yang dianggapnya terlalu banyak bicara tanpa pengertian karena merasa frustrasi. Nantikanlah Tuhan, karena perkara kita sudah ada di meja-Nya. Merasa Tuhan tidak melihat adalah perasaan yang manusiawi, tetapi itu bukan kenyataan. Kenyataannya, perkara kita sedang diproses di takhta surgawi. Jangan biarkan mulut kita mengucapkan kata-kata yang tidak beriman hanya karena waktu Tuhan berbeda dengan waktu kita. Menanti adalah bagian dari iman; itu adalah bukti bahwa kita mempercayai kedaulatan-Nya.Refleksi:Apakah pernah merasa Tuhan “berutang” kepada kita karena ketaatan kita?Dalam masa penderitaan, apakah kita lebih fokus pada pertanyaan “mengapa saya?” atau pada siapa Tuhan itu?Bagaimana kesadaran akan kebesaran Tuhan dapat menolong kita menghadapi keluhan dan rasa kecewa?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika kami sering menganggap ketaatan kami sebagai alat untuk mengatur-Mu. Kami sadar bahwa segala kebaikan kami tidak menambah kemuliaan-Mu, melainkan merupakan anugerah-Mu bagi kami. Berikanlah kami 'nyanyian di malam hari' agar kami tetap bisa memuji-Mu di tengah kesesakan kami. Kami mau belajar menanti dengan sabar, percaya bahwa Engkau tahu persis apa yang sedang kami alami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

20 Oktober 2026

Allah Tidak Berlaku Curang

Elihu mengajak orang-orang bijak untuk bersama-sama menguji perkataan Ayub. Fokus utama Elihu adalah membela Keadilan Tuhan. Ia merasa Ayub telah melampaui batas dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak adil dan bahwa tidak ada gunanya hidup saleh. Keyakinan bahwa Tuhan itu adil adalah sauh bagi jiwa kita, terutama saat kita hidup dalam dunia yang tampak sangat tidak adil.Elihu mengajak para pendengarnya untuk "memilih bagi kita apa yang adil" dan "menentukan bagi kita apa yang baik." Ia ingin agar setiap argumen tentang Tuhan diuji dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar emosi sesaat. Saat menderita, kita sering kali mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak benar tentang Tuhan hanya karena kita sedang merasa sakit. Ayub sempat berkata bahwa Tuhan merampas haknya (ayat 5). Namun, Elihu mengingatkan bahwa perasaan kita bukanlah standar kebenaran. Sebelum kita menyalahkan Tuhan, kita perlu menguji apakah kata-kata kita lahir dari iman atau sekadar kekecewaan yang pahit.Elihu memberikan penegasan: "Jauhlah dari pada Tuhan untuk melakukan kefasikan, dan dari pada Yang Mahakuasa untuk melakukan kecurangan." Ia menjelaskan bahwa Tuhan membalas manusia sesuai dengan perbuatannya. Tuhan adalah standar keadilan itu sendiri. Jika Tuhan tidak adil, maka seluruh alam semesta akan runtuh. Kita mungkin tidak memahami semua alasan di balik keputusan Tuhan, tetapi kita harus berpegang pada prinsip bahwa Tuhan tidak bisa berbuat jahat. Sifat-Nya adalah kudus dan adil. Jangan biarkan penderitaan membuatmu meragukan karakter Tuhan. Jika kita tidak mengerti "apa" yang Tuhan lakukan, percayalah pada "Siapa" Tuhan itu.Elihu mengingatkan bahwa mata Tuhan tertuju pada jalan-jalan manusia. Tidak ada kegelapan atau kelam pekat di mana orang-orang yang melakukan kejahatan dapat bersembunyi. Tuhan tidak perlu melakukan penyelidikan panjang seperti hakim manusia, karena Ia tahu segalanya. Hidup kita adalah buku yang terbuka di hadapan-Nya. Ini adalah peringatan sekaligus penghiburan. Peringatan bagi mereka yang berbuat jahat secara tersembunyi, dan penghiburan bagi mereka yang benar namun difitnah. Tuhan melihat setiap air mata, setiap ketidakadilan, dan setiap motif hati yang paling dalam. Tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya.Elihu mengusulkan sebuah doa yang luar biasa bagi siapa pun yang sedang dalam kesesakan: "Aku telah memikul hukuman, aku tidak akan berbuat jahat lagi; apa yang aku tidak lihat, ajarkanlah kepadaku; jikalau aku telah melakukan kecurangan, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Mintalah hikmat, bukan sekadar penjelasan. Alih-alih memprotes Tuhan dengan berkata "Aku tidak bersalah", lebih baik kita berkata, "Tuhan, jika ada sesuatu yang tidak aku lihat (dosa yang tidak kusadari atau pelajaran yang belum kupahami), ajarkanlah kepadaku." Kerendahan hati untuk diajar oleh Tuhan adalah kunci untuk melewati masa-masa sulit dengan kemenangan rohani.Refleksi:Bagaimana kita membedakan antara pergumulan iman yang jujur dan tuduhan terhadap karakter Tuhan?Apa arti mempercayai bahwa Tuhan melihat dan menilai segala sesuatu dengan sempurna, bahkan ketika kita tidak melihat hasilnya?Bagaimana kita dapat mengembangkan iman yang bersandar pada karakter Tuhan, bukan pada keadaan yang berubah-ubah?Doa:Allah Bapa, kami sujud di hadapan keadilan dan kedaulatan-Mu. Ampunilah kami jika dalam kesesakan kami, kami pernah meragukan kebaikan-Mu atau menganggap Engkau tidak adil. Selidikilah hati kami, ya Tuhan, dan ajarkanlah kepada kami hal-hal yang tidak mampu kami lihat dengan mata kami yang terbatas. Kami percaya bahwa segala jalan-Mu adalah benar dan adil. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.