Selamat datang di GKY Gerendeng!
Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Visi dan Misi Gereja
Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.
Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.
CREED
QT Terbaru
27 Oktober 2026
Dari Mendengar Menjadi Melihat
Setelah melewati badai penderitaan, perdebatan sengit, dan teguran langsung dari Tuhan, bagian terakhir kitab Ayub menyajikan sebuah akhir yang bukan sekadar "happy ending", melainkan sebuah pemulihan spiritual yang mendalam. Ayub tidak mendapatkan jawaban "mengapa" ia menderita, tetapi ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar: pengenalan pribadi akan Tuhan. Pemulihan sejati dimulai bukan saat masalah kita selesai, melainkan saat mata rohani kita terbuka untuk melihat kedaulatan dan kasih Tuhan di tengah masalah.Ayub menjawab Tuhan dengan pengakuan yang sangat kuat: "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." Ayub menyadari bahwa selama ini ia berbicara tentang hal-hal yang terlalu ajaib baginya, yang tidak ia pahami. Iman adalah mempercayai rencana Tuhan saat kita tidak memahami proses-Nya. Sering kali kita merasa rencana Tuhan "gagal" karena hidup kita berantakan. Namun, Ayub mengajarkan bahwa kedaulatan Tuhan tidak bergantung pada pemahaman kita. Mengakui bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu berarti berhenti mendikte Tuhan tentang bagaimana Ia seharusnya memberkati kita.Inilah inti dari seluruh kitab Ayub: "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau." Sebelum menderita, Ayub mengenal Tuhan melalui tradisi dan ajaran (pendengaran). Setelah penderitaan, Ayub mengenal Tuhan melalui perjumpaan pribadi (penglihatan). Penderitaan sering kali menjadi "lensa" yang memperjelas pandangan kita kepada Tuhan. Pengetahuan teologi yang hebat tidak akan bisa menggantikan pengalaman pribadi berjalan bersama Tuhan di lembah kekelaman. Mungkin Tuhan mengizinkan masalah terjadi agar iman kita tidak lagi berdasarkan "kata orang", melainkan berdasarkan pengalaman pribadi bahwa Dia adalah penolong yang nyata.Tuhan menegur ketiga sahabat Ayub dan meminta mereka membawa korban bakaran. Namun, ada satu syarat bagi pemulihan Ayub: "Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia berdoa untuk sahabat-sahabatnya.” Pemulihan batin sering kali terikat pada kesediaan kita mengampuni. Bayangkan betapa sulitnya bagi Ayub untuk mendoakan orang-orang yang telah menghakimi dan menyakiti hatinya. Namun, ketika Ayub melepaskan pengampunan, di sanalah berkat pemulihan mengalir. Jangan biarkan kepahitan menghambat pemulihan yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Berdoalah bagi mereka yang menyakiti kita, maka kita akan menemukan kebebasan.Tuhan memulihkan keadaan Ayub dua kali lipat dari sebelumnya. Ia diberikan keluarga baru, harta yang melimpah, dan usia yang lanjut. Ayub mati dalam keadaan "tua dan lanjut umur", sebuah ungkapan tentang hidup yang penuh dan puas. Tuhan tidak pernah berhutang pada anak-anak-Nya. Akhir kisah Ayub menunjukkan bahwa penderitaan hanyalah sebuah musim, tetapi kasih setia Tuhan adalah selamanya. Apa yang hilang dalam hidup kita sanggup dikembalikan oleh Tuhan dengan cara yang tidak terduga. Meskipun tidak semua pemulihan di dunia ini bersifat materi, Tuhan menjanjikan pemulihan yang sempurna di dalam kekekalan bagi setiap orang yang setia.Refleksi:Apa perbedaan antara “mendengar tentang Tuhan” dan “melihat Tuhan” dalam kehidupan rohani kita?Bagaimana perjumpaan Ayub dengan Tuhan mengubah sikap dan pemahamannya?Bagaimana penderitaan dapat menjadi jalan menuju pengenalan Tuhan yang lebih dalam?Doa:Allah Bapa, terima kasih untuk perjalanan hidup Ayub yang menguatkan kami. Kami mengaku bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan rencana-Mu bagi kami tidak pernah gagal. Ampunilah kami jika selama ini kami hanya mengenal-Mu dari kata orang. Hari ini, melalui setiap air mata dan tantangan, kami mau memandang-Mu lebih dekat lagi. Berikanlah kami hati yang mau mengampuni mereka yang menyakiti kami, dan kami percaya bahwa waktu pemulihan-Mu akan tiba pada saat yang paling indah. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
26 Oktober 2026
Siapakah yang Dapat Bertahan di Hadapan-Ku?
Tuhan melanjutkan dialog-Nya dengan memperkenalkan makhluk air (Lewiatan / buaya) yang sangat dahsyat dan menakutkan. Jika sebelumnya Tuhan berbicara tentang makhluk darat (Behemot), kini makhluk air (Lewiatan) digambarkan sebagai puncak dari segala makhluk yang menimbulkan kegentaran. Melalui deskripsi ini, Tuhan ingin memberikan pelajaran terakhir bagi Ayub mengenai kedaulatan, keagungan, dan otoritas-Nya yang mutlak. Mengakui kedaulatan Tuhan berarti mengakui bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa kita jinakkan, tetapi berada sepenuhnya dalam kendali tangan-Nya.Tuhan mengajukan serangkaian pertanyaan retoris kepada Ayub: "Dapatkah engkau menarik Lewiatan dengan kail? ... Dapatkah engkau menaruh tali hutan pada hidungnya?" Tuhan ingin menunjukkan bahwa Lewiatan bukanlah makhluk yang bisa dijadikan peliharaan atau dipermainkan oleh manusia. Manusia bahkan akan gemetar hanya dengan melihatnya. Kita tidak bisa mengontrol segala sesuatu. Sering kali kita merasa frustrasi karena ada situasi dalam hidup (penyakit, masalah ekonomi, atau konflik keluarga) yang tidak bisa kita "jinakkan" meskipun kita sudah berusaha keras. Lewiatan mengingatkan kita bahwa ada kekuatan di dunia ini yang melampaui kemampuan kita. Namun, apa yang tidak bisa dijinakkan oleh manusia, diciptakan dan dikendalikan oleh Tuhan. Berhentilah memaksakan diri untuk memegang kendali yang bukan milik kita.Tuhan berkata: "Siapa yang berani menghadapi dia (Lewiatan)? Siapa yang menghadapi Aku dan Aku harus membalasnya? Apa yang ada di seluruh kolong langit adalah milik-Ku.” Tuhan tidak berhutang kepada siapa pun. Jika menghadapi makhluk ciptaan-Nya saja manusia tidak berani, betapa lebih gentarnya kita seharusnya di hadapan Pencipta-Nya? Ayat ini mematahkan anggapan Ayub (dan sering kali anggapan kita) bahwa Tuhan "wajib" memberikan penjelasan atau berkat karena kita merasa sudah hidup benar. Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik-Nya. Kita hidup karena anugerah-Nya, bukan karena jasa-jasa kita.Tuhan menggambarkan detail fisik Lewiatan: giginya yang mengerikan, sisiknya yang rapat seperti perisai yang tidak bisa ditembus udara, hingga nafasnya yang digambarkan seperti api. Saat ia bangkit, orang yang paling berani pun menjadi gentar. Detail kerumitan hidup kita berada dalam desain Tuhan. Lewiatan adalah makhluk yang menakutkan, namun Tuhan membanggakan desain-Nya atas makhluk itu. Demikian juga dengan hidup kita. Ada bagian dari perjalanan hidup kita yang mungkin tampak "menakutkan" atau "keras" seperti sisik Lewiatan, namun Tuhan sedang menenun sesuatu yang luar biasa. Jika Tuhan memperhatikan detail setiap sisik makhluk air, Dia pasti memperhatikan setiap detail kebutuhan dan pergumulan kita.Lewiatan disebut sebagai "raja atas segala binatang yang ganas" karena ia tidak mengenal takut. Namun, di hadapan Tuhan, Lewiatan tetaplah hanya seekor ciptaan. Kerendahan hati adalah kunci pemulihan. Melalui Lewiatan, Tuhan sedang membidik kesombongan Ayub yang merasa berhak menggugat Tuhan. Saat kita melihat betapa besarnya Tuhan dan betapa kecilnya kita, di sanalah kita menemukan posisi yang benar. Jangan biarkan kesombongan membuat kita merasa lebih tahu dari Tuhan. Menundukkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat adalah jalan menuju kedamaian yang sejati.Refleksi:Apa yang kita rasakan ketika membaca gambaran tentang kekuatan Lewiatan yang tak tertandingi?Jika manusia tidak sanggup menaklukkan makhluk ciptaan seperti Lewiatan, bagaimana seharusnya sikap kita di hadapan Sang Pencipta?Apakah pernah merasa cukup kuat atau cukup bijak untuk “mengatur” hidup tanpa Tuhan?Doa:Allah Bapa, kami sujud di hadapan keagungan-Mu. Jika melihat kedahsyatan ciptaan-Mu saja kami gemetar, betapa seharusnya kami lebih hormat di hadapan-Mu, Sang Pencipta. Ampunilah kami jika kami sering mencoba mengatur jalan-Mu atau menuntut penjelasan dari-Mu. Kami percaya bahwa segala sesuatu di kolong langit adalah milik-Mu, termasuk hidup kami. Kami melepaskan kendali atas masalah kami dan menyerahkannya ke dalam tangan-Mu yang kuat. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT