Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

29 Oktober 2026

Ketika "Segalanya" Masih Terasa Kurang

Sang Pengkhotbah (Salomo) melakukan sebuah "eksperimen hidup" yang sangat ekstrem. Ia memiliki segala sumber daya untuk mencoba segala sesuatu yang diinginkan manusia: tawa, hiburan, kemewahan, proyek bangunan raksasa, hingga kekayaan yang tak terhitung. Namun, kesimpulannya tetap sama: semuanya adalah "kejaran angin.” Kepuasan sejati tidak ditemukan dalam apa yang kita kumpulkan untuk diri sendiri, melainkan dalam kemampuan untuk menikmati setiap pemberian Tuhan dengan ucapan syukur.Salomo mencoba menghibur dirinya dengan anggur, membangun istana, menanam kebun dan taman yang indah, serta mengumpulkan perak dan emas. Ia tidak menahan matanya dari apa pun yang diinginkannya. Namun, ketika ia melihat kembali segala pekerjaan yang dilakukan tangannya, ia menyadari bahwa segalanya sia-sia. Kesuksesan lahiriah tidak menjamin ketenangan batin. Kita sering berpikir, "Kalau saja aku punya rumah itu, jabatan itu, atau saldo bank sekian, aku akan puas." Salomo membuktikan bahwa "memiliki segalanya" justru sering kali memperjelas kehampaan hati. Pencapaian tanpa kehadiran Tuhan di dalamnya hanyalah sebuah monumen bagi ego kita yang akan segera terlupakan. Jangan biarkan hidup kita habis hanya untuk membangun "kerajaan kecil" yang fana.Salomo merenungkan bahwa meskipun hikmat lebih baik daripada kebebalan, pada akhirnya nasib orang berhikmat dan orang bebal adalah sama: keduanya akan mati. Pemikiran ini membuat Salomo sempat "membenci hidup" karena ia merasa segala jerih payahnya tidak akan dibawa mati. Hiduplah dengan perspektif kekekalan. Kematian adalah pengingat bahwa kita tidak bisa membawa apa pun dari dunia ini. Jika kita hanya hidup untuk dunia, maka kematian adalah sebuah tragedi. Namun, jika kita hidup untuk Tuhan, kematian adalah pintu menuju pemenuhan janji-Nya. Jangan terjebak dalam rasa putus asa akan kefanaan hidup, tetapi gunakanlah waktu yang singkat ini untuk menanam sesuatu yang bernilai kekal.Salomo merasa sedih karena segala hasil jerih payahnya akan ditinggalkan kepada orang yang datang sesudahnya, yang mungkin tidak menghargainya atau bahkan menghamburkannya. Ia melihat betapa sia-sianya bekerja keras siang malam hingga tidak bisa tidur, hanya untuk sesuatu yang tidak pasti. Kerja keras adalah berkat, tetapi ambisi yang berlebihan adalah beban. Tuhan ingin kita bekerja dengan rajin, tetapi Ia tidak ingin kita menjadi "budak" dari pekerjaan kita sendiri. Jika pekerjaan kita merampas kedamaian, kesehatan, dan waktu kita dengan Tuhan, berarti ada yang salah dengan motivasi kita. Ingatlah bahwa kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.Di akhir pasal ini, Salomo menemukan secercah cahaya. Ia menyadari bahwa kemampuan untuk makan, minum, dan menikmati hasil jerih payah adalah pemberian tangan Tuhan. Tanpa Tuhan, tidak ada orang yang dapat makan atau merasakan kesenangan. Kebahagiaan adalah soal perspektif, bukan akumulasi. Kemampuan untuk menikmati secangkir kopi di pagi hari atau waktu bersama keluarga adalah karunia dari Tuhan. Orang yang benar di mata Tuhan akan diberikan hikmat untuk menikmati apa yang ada padanya. Sebaliknya, orang fasik mungkin mengumpulkan banyak, tetapi tidak pernah bisa menikmatinya. Belajarlah untuk berkata, "Cukup," dan bersyukurlah atas setiap hal kecil yang Tuhan berikan hari ini.Refleksi:Apakah kerja keras dan pencapaian kita benar-benar memberi makna, atau hanya kesibukan yang melelahkan?Bagaimana kita menyikapi kenyataan bahwa hasil jerih payah kita suatu hari akan diwariskan kepada orang lain?Apa perbedaan antara menikmati berkat Tuhan dan menjadikan berkat itu sebagai tujuan utama hidup?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika kami sering mencari kepuasan di luar Engkau. Kami sadar bahwa segala pencapaian duniawi tidak akan pernah bisa mengisi ruang kosong dalam hati kami yang hanya bisa diisi oleh kehadiran-Mu. Ajarlah kami untuk bekerja dengan rajin namun tetap tenang, dan berikanlah kami hikmat untuk menikmati setiap berkat kecil yang Engkau berikan hari ini dengan hati yang bersyukur. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

28 Oktober 2026

Mencari Makna di Balik Matahari

Jika Ayub bergumul dengan mengapa manusia menderita, Pengkhotbah bergumul dengan pertanyaan: apa gunanya hidup ini? Penulisnya diyakini adalah Raja Salomo, adalah orang yang memiliki segalanya, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan, namun ia memulai kitab ini dengan seruan yang mengejutkan: “Kesia-siaan!” Hidup tanpa melibatkan Tuhan di dalamnya akan selalu terasa seperti mengejar angin, melelahkan namun tidak pernah memuaskan.Pengkhotbah melihat alam semesta dan merasa jemu. Matahari terbit lalu terbenam kembali ke tempatnya; angin bertiup ke selatan lalu berputar ke utara; sungai-sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak pernah penuh. Segalanya tampak seperti lingkaran yang berulang tanpa tujuan yang jelas. Rutinitas tanpa visi Tuhan akan terasa hambar. Sering kali kita merasa hidup kita seperti roda yang berputar: bangun, bekerja, makan, tidur, lalu diulang lagi. Jika fokus kita hanya pada rutinitas duniawi ("di bawah matahari"), kita akan mudah merasa bosan dan hampa. Kita perlu menyadari bahwa hidup kita bukanlah sekadar siklus alam, melainkan sebuah perjalanan menuju rencana kekal yang Tuhan tetapkan."Mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar." Pengkhotbah menyadari bahwa manusia selalu haus akan hal baru. Namun, ia menegaskan: "Sesuatu yang pernah ada akan ada lagi... tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” Dunia tidak menyediakan kepuasan yang permanen. Kita sering berpikir bahwa jika kita memiliki HP baru, mobil baru, atau pengalaman baru, kita akan bahagia. Namun, kepuasan itu biasanya hanya bertahan sekejap. Selalu ada "hal baru" berikutnya yang harus dikejar. Kepuasan sejati tidak datang dari apa yang kita lihat atau dengar di dunia ini, melainkan dari apa yang kita terima di dalam Kristus.Pengkhotbah adalah orang yang paling berhikmat di zamannya. Namun, kesimpulannya menyakitkan: "Karena dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa menambah pengetahuan, menambah kesedihan." Semakin ia tahu tentang dunia, semakin ia melihat betapa banyak hal yang "bengkok tidak dapat diluruskan" (ayat 15). Pengetahuan tanpa Tuhan hanya akan membawa kepahitan. Belajar dan menjadi pintar itu baik, tetapi jika hikmat kita hanya dipakai untuk menganalisis kebobrokan dunia tanpa melibatkan harapan di dalam Tuhan, kita hanya akan menjadi orang yang sinis dan sedih. Hikmat manusia memiliki batas; ia tidak bisa memperbaiki dunia yang rusak karena dosa. Kita butuh hikmat surgawi yang membawa kedamaian, bukan sekadar teori yang menambah beban pikiran.Kata "kesia-siaan" dalam bahasa Ibrani adalah hebel, yang berarti "uap" atau "napas". Uap itu ada, terlihat, tetapi tidak bisa digenggam. Hidup ini singkat dan sulit dipahami jika kita hanya melihatnya dari sudut pandang manusia. Jangan mencoba menggenggam uap, tetapi genggamlah Sang Pencipta. Pengkhotbah tidak bermaksud membuat kita putus asa, melainkan ingin kita berhenti mencari makna hidup pada hal-hal yang fana. Jika hidup ini adalah hebel (uap), maka satu-satunya yang konstan dan layak dijadikan pegangan adalah Tuhan yang kekal.Refleksi:Apa arti “kesia-siaan” dalam pengalaman hidup sehari-hari?Dalam rutinitas yang berulang, kerja, makan, tidur, apakah pernah merasa seperti berada dalam siklus tanpa makna? Mengapa?Jika segala sesuatu tampak sementara dan fana, di mana kita meletakkan dasar pengharapan kita?Doa:Allah Bapa, kami mengaku bahwa sering kali kami merasa jemu dengan rutinitas hidup kami dan mengejar hal-hal yang sia-sia untuk memuaskan hati kami. Ampunilah kami jika kami mencoba mencari makna hidup terpisah dari-Mu. Ajarlah kami untuk melihat bahwa di balik segala yang fana ini, ada Engkau yang kekal. Berikanlah kami hikmat yang tidak hanya memenuhi pikiran kami, tetapi juga memberi ketenangan bagi jiwa kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.