Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

4 Oktober 2026

Teologi Ketakutan

Bildad orang Suah kembali angkat bicara. Namun, alih-alih memberikan kata-kata penghiburan, Bildad justru merasa tersinggung karena Ayub menganggap para sahabatnya seperti binatang atau orang bodoh. Berbicara tentang kebenaran tanpa memiliki hati yang penuh kasih hanya akan melahirkan penghakiman yang melukai.Bildad memulai dengan kemarahan. Ia merasa direndahkan oleh Ayub. Ia bertanya, "Mengapa kami dianggap sebagai binatang, dan dianggap bodoh di matamu?" Bildad begitu fokus pada harga dirinya sehingga ia tidak lagi mampu melihat rasa sakit di hati Ayub. Pelayanan dan nasehat harus didasari kasih, bukan ego. Sering kali kita merasa marah ketika nasehat kita ditolak atau ketika orang yang kita tolong tidak merespons sesuai keinginan kita. Jika kita merasa tersinggung saat mencoba menolong orang lain, mungkin sebenarnya kita bukan sedang melayani Tuhan, melainkan sedang memuaskan ego kita sendiri. Ingatlah, pelayanan sejati tetap memberi kasih bahkan saat tidak dihargai.Bildad memaparkan bahwa "terang orang fasik akan padam." Ia menggambarkan hidup orang fasik sebagai jalan yang penuh jerat, perangkap, dan jebakan. Ia ingin menekankan bahwa jika hidup seseorang penuh masalah, itu adalah tanda bahwa ia adalah orang fasik. Jangan menghakimi kerohanian seseorang dari situasinya. Bildad memiliki logika yang dangkal: "Orang benar pasti terang, orang fasik pasti gelap." Padahal, Alkitab menunjukkan bahwa terkadang orang benar harus melewati "lembah kekelaman" (Mazmur 23). Jangan gunakan keadaan sulit seseorang sebagai alat untuk menghakimi bahwa mereka jauh dari Tuhan. Bisa jadi, di tengah kegelapan itu, Tuhan sedang memproses mereka menjadi emas yang murni.Bildad menggambarkan kengerian yang mengejar orang fasik dari segala sisi: kelaparan, penyakit (yang ia sebut sebagai "anak sulung maut"), dan kehilangan tempat tinggal. Ia menggambarkan kehancuran total yang menimpa segala milik orang tersebut. Tuhan bukanlah "Teror", melainkan "Bapa". Bildad menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang hanya suka meneror dan menghancurkan. Ini adalah gambaran Tuhan yang menyimpang. Meskipun Tuhan itu adil, Dia juga panjang sabar dan penuh kasih setia. Di tengah penderitaan yang hebat, jangan biarkan suara-suara di sekitarmu menggambarkan Tuhan sebagai hakim yang kejam. Dia adalah Bapa yang memeluk anak-anak-Nya yang sedang hancur hati.Bildad menutup dengan mengatakan bahwa orang fasik tidak akan meninggalkan nama atau keturunan; ingatan tentang mereka akan lenyap dari bumi. Ia seolah-olah menggaramkan luka Ayub yang memang baru saja kehilangan semua anaknya. Berhati-hatilah dengan kata-kata Kita terhadap mereka yang hancur. Kata-kata Bildad di ayat 21, "Demikianlah tempat kediaman orang yang tidak mengenal Tuhan," adalah sebuah "vonis" yang sangat kejam. Sebagai anak Tuhan, tugas kita adalah membangun harapan, bukan menghancurkan sisa-sisa semangat orang lain. Kebenaran tanpa kasih adalah kekejaman.Refleksi:Bagaimana nada dan isi perkataan Bildad menunjukkan pendekatan yang berpusat pada ketakutan?Apa bahaya membangun pemahaman tentang Tuhan terutama melalui ancaman dan hukuman?Bagaimana kita membedakan antara rasa hormat yang sehat kepada Tuhan dan ketakutan yang melumpuhkan?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika sering kali kami lebih mementingkan harga diri kami daripada perasaan orang yang sedang menderita di sekitar kami. Berikanlah kami lidah seorang murid yang tahu memberikan semangat kepada mereka yang letih lesu. Jauhkanlah kami dari sikap menghakimi dan berikanlah kami hati yang penuh belas kasihan seperti hati-Mu. Biarlah kata-kata kami membawa pemulihan, bukan kehancuran. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

3 Oktober 2026

Harapan di Balik Awan

Kondisi mental dan emosional Ayub tampak semakin tertekan. Di satu sisi ia harus menghadapi serangan verbal para sahabatnya yang semakin tajam, di sisi lain ia merasa tubuhnya semakin hancur. Di titik terendah hidup kita, saat semua dukungan manusia runtuh, harapan kita tidak terletak pada keadaan yang membaik, melainkan pada Saksi yang ada di surga.Ayub menyebut sahabat-sahabatnya sebagai "penghibur sialan". Mereka datang membawa teori, bukan empati. Ayub berkata bahwa jika ia berada di posisi mereka, ia pun bisa saja mengucapkan kata-kata muluk yang menjatuhkan, namun ia lebih memilih untuk menguatkan dengan bibirnya. Sering kali kita merasa sudah menolong orang yang berduka dengan "khotbah" kita, padahal yang mereka butuhkan hanyalah telinga yang mendengar dan hati yang ikut merasakan. Jangan menjadi penghibur yang justru menambah beban. Jadilah orang yang kehadirannya membawa ketenangan, bukan perdebatan.Ayub merasa Tuhan telah "mengoyak-ngoyak" dia dalam murka-Nya. Ia menggambarkan dirinya sebagai sasaran empuk yang dikepung oleh pemanah-pemanah Tuhan. Secara fisik dan mental, Ayub merasa hancur total, mukanya merah karena menangis dan matanya kelam pekat (ayat 16). Perasaan ditinggalkan oleh Tuhan adalah ujian iman yang paling berat. Ayub mengungkapkan apa yang ia rasakan, bukan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar surga. Ada saat-saat dalam hidup di mana seolah-olah Tuhan menjadi musuh kita. Namun, kejujuran Ayub menunjukkan bahwa bahkan dalam kemarahan atau kebingungan kita, kita harus tetap mengarahkannya kepada Tuhan, bukan lari daripada-Nya.Inilah kalimat kunci kemenangan iman Ayub: "Ketahuilah, sekarang pun juga, Saksiku ada di sorga, Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi." Di tengah tuduhan manusia, Ayub yakin ada Satu Pribadi yang tahu kebenaran hatinya. Hanya penilaian Tuhan yang benar-benar penting. Saat orang lain salah paham, memfitnah, atau meremehkan penderitaanmu, ingatlah bahwa ada Saksi di surga. Kita tidak perlu membela diri secara membabi buta di hadapan manusia jika kita tahu Saksi Surgawi kita berdiri di pihak kita. Yesus Kristus adalah Pembela kita yang agung, yang memahami setiap tetes air mata yang jatuh.Nada Ayub kembali merosot. Ia merasa nafasnya sesak dan kuburan sudah menantinya. Ia merasa menjadi tontonan dan bahan tertawaan (ayat 6). Ia bertanya, "Di manakah harapanku?" (ayat 15). Ia merasa harapan itu ikut turun ke dalam dunia orang mati. Ayub merasa harapannya mati, tetapi Alkitab mencatat bahwa penderitaannya bukanlah akhir cerita. Ketika kita merasa masa depan kita sudah tertutup dan tidak ada lagi jalan keluar, ingatlah bahwa Tuhan adalah spesialis dalam menghidupkan apa yang sudah mati. Jangan biarkan "liang kubur" masalahmu membuatmu lupa bahwa Tuhan memegang kunci atas setiap pintu yang tertutup.Refleksi:Bagaimana perasaan Ayub terhadap sahabat-sahabatnya menolong kita memahami luka yang muncul dari kata-kata yang tidak peka?Apa arti memegang pengharapan ketika semua keadaan tampak gelap seperti awan tebal?Bagaimana kita dapat membedakan antara perasaan ditinggalkan dan kenyataan bahwa Tuhan tetap hadir?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkau adalah Saksi kami yang setia di surga. Saat dunia menghakimi dan sahabat menjauh, kami bersyukur karena Engkau tahu kebenaran hati kami. Ampunilah kami jika kami sering merasa putus asa saat menghadapi badai. Berikanlah kami kekuatan untuk tetap berharap kepada-Mu, bahkan saat kami berada di ambang kelelahan. Biarlah hidup kami tetap memuliakan-Mu dalam segala musim. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.