Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

22 September 2026

Kebenaran Tanpa Kasih

Elifas adalah seorang yang sangat religius dan mendasarkan argumennya pada pengalaman spiritual serta hukum tabur-tuai. Namun, dalam niatnya untuk "menjelaskan" penderitaan Ayub, ia justru terjebak dalam penghakiman yang dangkal. Pengetahuan teologi yang hebat tanpa disertai empati dan kasih hanya akan menjadi senjata yang melukai mereka yang sedang terluka.Elifas memulai dengan mengakui bahwa di masa lalu, Ayub adalah orang yang luar biasa dalam menguatkan orang lain yang lemah. Namun, Elifas kemudian menyindir: "Tetapi sekarang, hal itu menimpa engkau, dan engkau menjadi kesal; hal itu mengenai engkau, dan engkau terkejut.” Jauh lebih mudah memberikan nasihat daripada mempraktikkannya. Kita sering kali sangat bijak saat menolong orang lain, tetapi sangat rapuh saat masalah itu menimpa diri sendiri. Jangan cepat menghakimi seseorang yang sedang tertekan hanya karena mereka tidak "sekuat" biasanya. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki titik patahnya masing-masing.Argumen utama Elifas adalah: "Siapakah orang yang tak bersalah binasa? ... Menurut yang kulihat, orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga." Elifas yakin bahwa Ayub menderita hebat, pastilah ada dosa tersembunyi yang dilakukan Ayub. Jangan membatasi kedaulatan Tuhan dengan rumus manusia. Memang benar ada hukum tabur-tuai, tetapi tidak semua penderitaan adalah akibat langsung dari dosa pribadi. Elifas melakukan kesalahan fatal: ia mencoba membela Tuhan dengan cara menyalahkan korban. Hati-hatilah saat menilai penderitaan orang lain; jangan merasa paling tahu isi hati Tuhan dan motif hidup seseorang.Elifas menceritakan penglihatan mistisnya tentang betapa kotor dan tidak berartinya manusia di mata Tuhan: "Mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Tuhan?” Tuhan memang Maha Suci, tetapi Dia bukan Tuhan yang jauh. Elifas benar bahwa manusia penuh kelemahan, tetapi ia salah karena ia menggambarkan Tuhan sebagai Pribadi yang hanya mencari-cari kesalahan hamba-Nya. Di dalam Kristus, kita tahu bahwa Tuhan justru mendekat kepada manusia yang berdosa dan hancur hati, bukan sekadar memandang rendah mereka dari kejauhan.Meskipun Elifas salah dalam menilai Ayub, ia memberikan nasihat yang secara umum benar: "Tetapi aku, tentu aku akan mencari Tuhan... Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membalut; Dia yang memukul, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula." Elifas menyebut bahwa orang yang ditegur Tuhan adalah orang yang berbahagia. Ambillah kebenaran, buanglah penghakiman. Di tengah penderitaan, nasihat terbaik tetaplah berpaling kepada Tuhan. Namun, kita harus membedakan antara "disiplin Tuhan" karena dosa (seperti yang dituduhkan Elifas) dan "ujian Tuhan" untuk pertumbuhan iman (seperti yang dialami Ayub). Fokuslah pada pemulihan dari Tuhan, bukan pada analisis manusia.Refleksi:Mengapa mudah bagi kita mengaitkan penderitaan dengan kesalahan pribadi, seperti yang dilakukan Elifas?Apa bahaya dari menyederhanakan masalah kompleks dengan rumus: orang benar diberkati, orang berdosa dihukum?Bagaimana kita dapat membedakan antara menghibur dengan benar dan menghakimi secara halus?Doa:Allah Bapa, berikanlah kami hati yang penuh kasih agar kami tidak cepat menghakimi sesama kami yang sedang menderita. Ampunilah kami jika kami sering merasa paling bijak dan sok tahu akan rencana-Mu. Saat kami sendiri berada dalam kesukaran, ajarlah kami untuk tetap mencari wajah-Mu, percaya bahwa di balik setiap luka yang Engkau izinkan, ada maksud mulia untuk memurnikan iman kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

21 September 2026

Kejujuran yang Menyakitkan

Ayub yang begitu tenang dan tabah, akhirnya meledak. Ia tidak mengutuki Tuhan, tetapi ia mengutuki hari kelahirannya. Ini adalah potret kejujuran seorang manusia yang sedang berada di titik nadir rasa sakitnya. Tuhan tidak meminta kita untuk berpura-pura kuat di hadapan-Nya. Dia adalah Bapa yang cukup besar untuk menampung seluruh kejujuran dan keputusasaan kita.Ayub membuka mulutnya dan mengutuki hari lahirnya: "Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku..." (ayat 3). Ia merasa bahwa kegelapan telah menelan seluruh hidupnya. Ayub tidak lagi mencoba terlihat "saleh" di depan manusia; ia menumpahkan segala kepahitan batinnya karena beban yang ia pikul terasa terlalu berat. Tuhan menerima kejujuran kita, bukan kepura-puraan kita. Banyak dari kita merasa bersalah ketika merasa sedih, kecewa, atau lelah dengan hidup. Kita merasa "kurang beriman" jika menangis atau mengeluh. Namun, Ayub mengajarkan bahwa iman tidak berarti menekan emosi. Iman berarti membawa emosi itu, sekalipun itu berupa teriakan kesakitan, kepada Tuhan, bukan lari menjauh dari-Nya.Ayub berulang kali bertanya, "Mengapa?" (ayat 11, 12, 16, 20, 23). Mengapa orang yang menderita diberi terang? Mengapa hidup diberikan kepada mereka yang hatinya pedih? Bagi Ayub, kematian tampak lebih menarik daripada hidup yang penuh siksaan karena di sana ia membayangkan ada ketenangan (ayat 13-17). Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban instan. Ada saat-saat di mana logika kita tidak mampu menjangkau rencana Tuhan. Bertanya "Mengapa?" kepada Tuhan bukanlah sebuah dosa; itu adalah bentuk komunikasi jiwa yang sedang mencari pegangan. Tuhan sering kali tidak menjawab "Mengapa" kita dengan penjelasan, tetapi Dia menjawabnya dengan kehadiran-Nya yang menguatkan.Ayub berkata, "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kugentarkan, itulah yang mendatangi aku" (ayat 25). Ayub mengakui bahwa di balik kesalehannya dulu, ia tetap memiliki kecemasan, dan kini kecemasan itu benar-benar terjadi. Ia merasa tidak ada ketenangan dan ketenteraman (ayat 26). Ketakutan terbesar kita tidak lebih besar dari kedaulatan Tuhan. Kadang kita merasa bahwa jika hal terburuk terjadi, hidup kita selesai. Ayub merasa hidupnya selesai, namun kita tahu (dari akhir kitab ini) bahwa ceritanya belum berakhir. Jangan biarkan "kegelisahan" hari ini menipu kita dengan berpikir bahwa masa depan kita sudah tertutup.Ayub merasa hidupnya dipagari oleh Tuhan sehingga ia tidak tahu jalan keluarnya (ayat 23). Ironisnya, Iblis sebelumnya mengatakan Tuhan memagari Ayub untuk melindunginya (Ayub 1:10). Bagi Ayub saat itu, pagar itu terasa seperti penjara, padahal itu adalah perlindungan agar ia tidak benar-benar binasa. Pagar Tuhan terkadang terasa menyesakkan, padahal itu menyelamatkan. Saat kita merasa tidak ada jalan keluar dan ruang gerak kita terbatas, percayalah bahwa Tuhan sedang menjaga kita agar tidak melangkah lebih jauh menuju kehancuran yang lebih besar.Refleksi:Mengapa Ayub tidak mengutuki Tuhan, tetapi mengutuki hari kelahirannya?Dalam penderitaan, apakah kita cenderung memendam emosi atau meluapkannya tanpa arah?Bagaimana kita dapat membedakan antara mengeluh kepada Tuhan dan mengeluh tentang Tuhan?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkau adalah tempat perlindungan di mana kami boleh menangis dan mengeluh tanpa dihakimi. Saat hati kami pedih dan hidup terasa gelap, peganglah tangan kami. Ampunilah kami jika kami meragukan kasih-Mu saat penderitaan datang. Kami menyerahkan segala pertanyaan yang tidak terjawab dalam hidup kami ke dalam tangan-Mu, percaya bahwa cerita kami belum berakhir di tangan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.