Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

3 Oktober 2026

Harapan di Balik Awan

Kondisi mental dan emosional Ayub tampak semakin tertekan. Di satu sisi ia harus menghadapi serangan verbal para sahabatnya yang semakin tajam, di sisi lain ia merasa tubuhnya semakin hancur. Di titik terendah hidup kita, saat semua dukungan manusia runtuh, harapan kita tidak terletak pada keadaan yang membaik, melainkan pada Saksi yang ada di surga.Ayub menyebut sahabat-sahabatnya sebagai "penghibur sialan". Mereka datang membawa teori, bukan empati. Ayub berkata bahwa jika ia berada di posisi mereka, ia pun bisa saja mengucapkan kata-kata muluk yang menjatuhkan, namun ia lebih memilih untuk menguatkan dengan bibirnya. Sering kali kita merasa sudah menolong orang yang berduka dengan "khotbah" kita, padahal yang mereka butuhkan hanyalah telinga yang mendengar dan hati yang ikut merasakan. Jangan menjadi penghibur yang justru menambah beban. Jadilah orang yang kehadirannya membawa ketenangan, bukan perdebatan.Ayub merasa Tuhan telah "mengoyak-ngoyak" dia dalam murka-Nya. Ia menggambarkan dirinya sebagai sasaran empuk yang dikepung oleh pemanah-pemanah Tuhan. Secara fisik dan mental, Ayub merasa hancur total, mukanya merah karena menangis dan matanya kelam pekat (ayat 16). Perasaan ditinggalkan oleh Tuhan adalah ujian iman yang paling berat. Ayub mengungkapkan apa yang ia rasakan, bukan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar surga. Ada saat-saat dalam hidup di mana seolah-olah Tuhan menjadi musuh kita. Namun, kejujuran Ayub menunjukkan bahwa bahkan dalam kemarahan atau kebingungan kita, kita harus tetap mengarahkannya kepada Tuhan, bukan lari daripada-Nya.Inilah kalimat kunci kemenangan iman Ayub: "Ketahuilah, sekarang pun juga, Saksiku ada di sorga, Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi." Di tengah tuduhan manusia, Ayub yakin ada Satu Pribadi yang tahu kebenaran hatinya. Hanya penilaian Tuhan yang benar-benar penting. Saat orang lain salah paham, memfitnah, atau meremehkan penderitaanmu, ingatlah bahwa ada Saksi di surga. Kita tidak perlu membela diri secara membabi buta di hadapan manusia jika kita tahu Saksi Surgawi kita berdiri di pihak kita. Yesus Kristus adalah Pembela kita yang agung, yang memahami setiap tetes air mata yang jatuh.Nada Ayub kembali merosot. Ia merasa nafasnya sesak dan kuburan sudah menantinya. Ia merasa menjadi tontonan dan bahan tertawaan (ayat 6). Ia bertanya, "Di manakah harapanku?" (ayat 15). Ia merasa harapan itu ikut turun ke dalam dunia orang mati. Ayub merasa harapannya mati, tetapi Alkitab mencatat bahwa penderitaannya bukanlah akhir cerita. Ketika kita merasa masa depan kita sudah tertutup dan tidak ada lagi jalan keluar, ingatlah bahwa Tuhan adalah spesialis dalam menghidupkan apa yang sudah mati. Jangan biarkan "liang kubur" masalahmu membuatmu lupa bahwa Tuhan memegang kunci atas setiap pintu yang tertutup.Refleksi:Bagaimana perasaan Ayub terhadap sahabat-sahabatnya menolong kita memahami luka yang muncul dari kata-kata yang tidak peka?Apa arti memegang pengharapan ketika semua keadaan tampak gelap seperti awan tebal?Bagaimana kita dapat membedakan antara perasaan ditinggalkan dan kenyataan bahwa Tuhan tetap hadir?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkau adalah Saksi kami yang setia di surga. Saat dunia menghakimi dan sahabat menjauh, kami bersyukur karena Engkau tahu kebenaran hati kami. Ampunilah kami jika kami sering merasa putus asa saat menghadapi badai. Berikanlah kami kekuatan untuk tetap berharap kepada-Mu, bahkan saat kami berada di ambang kelelahan. Biarlah hidup kami tetap memuliakan-Mu dalam segala musim. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

2 Oktober 2026

Kesombongan Intelektual

Elifas kembali berbicara, namun kali ini keramahannya di awal sudah hilang sama sekali. Ia merasa tersinggung karena Ayub tidak menerima "hikmatnya". Elifas beralih dari seorang penasihat menjadi seorang penuduh yang penuh amarah. Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih dan kerendahan hati tidak akan pernah memulihkan jiwa, melainkan hanya akan menambah luka.Elifas menuduh Ayub hanya mengeluarkan "pengetahuan angin" dan berbicara tanpa guna. Ia merasa kata-kata Ayub yang penuh keluhan telah merusak rasa takut akan Tuhan. Elifas menyimpulkan bahwa karena mulut Ayub mengeluarkan keluhan, maka itu adalah bukti bahwa Ayub bersalah. Hati-hatilah saat menilai iman seseorang dari cara mereka bergumul. Elifas menganggap bahwa orang beriman tidak boleh mengeluh atau bertanya. Namun, sering kali kejujuran dalam kesesakan adalah bentuk iman yang paling dalam. Jangan cepat melabeli orang yang sedang berteriak dalam rasa sakitnya sebagai "kurang beriman". Tuhan lebih mengerti bahasa air mata daripada bahasa teologi.Elifas menyerang Ayub dengan pertanyaan sarkastis: "Apakah engkau orang pertama yang lahir? ... Apakah engkau mendengarkan rahasia Tuhan?" Elifas merasa bahwa hikmatnya, yang didukung oleh "orang beruban dan orang yang sangat tua," jauh lebih benar daripada argumen Ayub. Pengalaman dan usia tidak selalu berarti kebenaran mutlak. Elifas terjebak dalam rasa senioritas rohani. Kita bisa saja memiliki pengetahuan Alkitab yang luas atau pengalaman bertahun-tahun di gereja, namun jika itu membuat kita merasa "paling tahu" tentang rencana Tuhan bagi orang lain, kita sedang jatuh dalam kesombongan. Tetaplah rendah hati; Tuhan sering bekerja dengan cara yang tidak bisa dibaca oleh logika manusia mana pun.Di bagian kedua ini, Elifas memberikan deskripsi panjang tentang nasib orang fasik: mereka selalu ketakutan, hidup dalam kegelapan, dan kekayaan mereka tidak akan tetap. Ia mencoba menakut-nakuti Ayub dengan gambaran-gambaran mengerikan tentang kehancuran orang yang melawan Tuhan. Kebenaran yang digunakan untuk menyerang, bukan untuk membangun. Deskripsi Elifas tentang nasib orang fasik mungkin ada benarnya, tetapi dalam konteks ini, ia sedang menggunakannya sebagai senjata untuk menghakimi Ayub. Jika tujuan kita berbicara adalah untuk membuktikan kita benar dan orang lain salah, maka kita telah gagal mengasihi. Nasihat yang baik seharusnya membawa orang kembali kepada harapan di dalam Tuhan, bukan membuat mereka semakin terpuruk dalam ketakutan.Elifas menutup dengan mengatakan bahwa orang yang percaya kepada kesia-siaan akan menuai kesia-siaan. Segala rencana jahat mereka akan melahirkan bencana. Ironisnya, Elifas sendiri sedang melakukan hal yang sia-sia: ia mencoba "membantu" Tuhan dengan cara menghancurkan semangat sahabatnya yang sedang menderita. Marilah kita memeriksa diri: apakah ucapan dan tindakan kita hari ini membangun kehidupan, atau justru sedang "menabur kesusahan" bagi orang lain yang sedang tertatih?Refleksi:Mengapa mudah bagi kita menganggap diri lebih bijaksana hanya karena usia, tradisi, atau pengalaman?Bagaimana kesombongan intelektual dapat menghalangi empati dan pengertian yang tulus?Apa bahaya berbicara tentang Tuhan dengan keyakinan tinggi tetapi hati yang tidak lembut?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika kami sering menjadi hakim bagi sesama kami dan menggunakan kebenaran-Mu sebagai alat untuk melukai. Berikanlah kami hikmat yang disertai dengan kasih dan kelembutan hati. Saat kami tidak memahami pergumulan orang lain, ajarlah kami untuk diam dan berdoa, bukan bicara dan menghakimi. Biarlah hidup kami memancarkan rahmat-Mu, bukan kebenaran yang dingin. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.