Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

21 September 2026

Kejujuran yang Menyakitkan

Ayub yang begitu tenang dan tabah, akhirnya meledak. Ia tidak mengutuki Tuhan, tetapi ia mengutuki hari kelahirannya. Ini adalah potret kejujuran seorang manusia yang sedang berada di titik nadir rasa sakitnya. Tuhan tidak meminta kita untuk berpura-pura kuat di hadapan-Nya. Dia adalah Bapa yang cukup besar untuk menampung seluruh kejujuran dan keputusasaan kita.Ayub membuka mulutnya dan mengutuki hari lahirnya: "Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku..." (ayat 3). Ia merasa bahwa kegelapan telah menelan seluruh hidupnya. Ayub tidak lagi mencoba terlihat "saleh" di depan manusia; ia menumpahkan segala kepahitan batinnya karena beban yang ia pikul terasa terlalu berat. Tuhan menerima kejujuran kita, bukan kepura-puraan kita. Banyak dari kita merasa bersalah ketika merasa sedih, kecewa, atau lelah dengan hidup. Kita merasa "kurang beriman" jika menangis atau mengeluh. Namun, Ayub mengajarkan bahwa iman tidak berarti menekan emosi. Iman berarti membawa emosi itu, sekalipun itu berupa teriakan kesakitan, kepada Tuhan, bukan lari menjauh dari-Nya.Ayub berulang kali bertanya, "Mengapa?" (ayat 11, 12, 16, 20, 23). Mengapa orang yang menderita diberi terang? Mengapa hidup diberikan kepada mereka yang hatinya pedih? Bagi Ayub, kematian tampak lebih menarik daripada hidup yang penuh siksaan karena di sana ia membayangkan ada ketenangan (ayat 13-17). Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban instan. Ada saat-saat di mana logika kita tidak mampu menjangkau rencana Tuhan. Bertanya "Mengapa?" kepada Tuhan bukanlah sebuah dosa; itu adalah bentuk komunikasi jiwa yang sedang mencari pegangan. Tuhan sering kali tidak menjawab "Mengapa" kita dengan penjelasan, tetapi Dia menjawabnya dengan kehadiran-Nya yang menguatkan.Ayub berkata, "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kugentarkan, itulah yang mendatangi aku" (ayat 25). Ayub mengakui bahwa di balik kesalehannya dulu, ia tetap memiliki kecemasan, dan kini kecemasan itu benar-benar terjadi. Ia merasa tidak ada ketenangan dan ketenteraman (ayat 26). Ketakutan terbesar kita tidak lebih besar dari kedaulatan Tuhan. Kadang kita merasa bahwa jika hal terburuk terjadi, hidup kita selesai. Ayub merasa hidupnya selesai, namun kita tahu (dari akhir kitab ini) bahwa ceritanya belum berakhir. Jangan biarkan "kegelisahan" hari ini menipu kita dengan berpikir bahwa masa depan kita sudah tertutup.Ayub merasa hidupnya dipagari oleh Tuhan sehingga ia tidak tahu jalan keluarnya (ayat 23). Ironisnya, Iblis sebelumnya mengatakan Tuhan memagari Ayub untuk melindunginya (Ayub 1:10). Bagi Ayub saat itu, pagar itu terasa seperti penjara, padahal itu adalah perlindungan agar ia tidak benar-benar binasa. Pagar Tuhan terkadang terasa menyesakkan, padahal itu menyelamatkan. Saat kita merasa tidak ada jalan keluar dan ruang gerak kita terbatas, percayalah bahwa Tuhan sedang menjaga kita agar tidak melangkah lebih jauh menuju kehancuran yang lebih besar.Refleksi:Mengapa Ayub tidak mengutuki Tuhan, tetapi mengutuki hari kelahirannya?Dalam penderitaan, apakah kita cenderung memendam emosi atau meluapkannya tanpa arah?Bagaimana kita dapat membedakan antara mengeluh kepada Tuhan dan mengeluh tentang Tuhan?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkau adalah tempat perlindungan di mana kami boleh menangis dan mengeluh tanpa dihakimi. Saat hati kami pedih dan hidup terasa gelap, peganglah tangan kami. Ampunilah kami jika kami meragukan kasih-Mu saat penderitaan datang. Kami menyerahkan segala pertanyaan yang tidak terjawab dalam hidup kami ke dalam tangan-Mu, percaya bahwa cerita kami belum berakhir di tangan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

20 September 2026

Ujian di Atas Ujian

Setelah kehilangan harta benda dan anak-anak, Ayub kini harus menghadapi penderitaan fisik yang luar biasa serta tekanan emosional dari orang terdekatnya. Iman yang sejati tidak hanya teruji saat kita kehilangan apa yang kita miliki, tetapi juga saat kita merasa kehilangan kendali atas apa yang kita rasakan secara fisik dan emosional.Iblis kembali menghadap Tuhan dan berargumen bahwa Ayub tetap setia hanya karena kesehatan fisiknya masih terjaga. Tuhan mengizinkan Iblis memukul Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya (ayat 7). Ayub kini menderita secara fisik, sosial (karena penyakit kulit sering dianggap kutukan), dan batiniah. Penderitaan sering kali datang tanpa permisi dan tanpa penjelasan. Terkadang kita merasa sudah cukup kuat menghadapi satu masalah, lalu masalah lain datang menimpa kesehatan atau kedamaian kita. Namun, ingatlah bahwa Tuhan tetap memegang kendali; Dia menetapkan batas bagi Iblis (ayat 6). Tuhan tahu kapasitas kekuatan kita, dan Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita.Istri Ayub, yang juga merasakan kehilangan yang sama, akhirnya patah arang. Ia berkata, "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Tuhanmu dan matilah!" (ayat 9). Ini adalah godaan yang sangat berat karena datang dari orang yang paling dicintai. Saat kita menderita, sering kali orang-orang di sekitar kita memberikan saran yang didasari oleh logika dunia atau kepahitan. Istri Ayub melihat kematian sebagai jalan keluar dari penderitaan, tetapi Ayub melihat kesetiaan sebagai satu-satunya jalan hidup. Jangan biarkan rasa sakit orang lain atau saran yang salah melemahkan tekad kita untuk tetap setia kepada Tuhan.Jawaban Ayub sangat luar biasa: "Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Tuhan, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" (ayat 10). Ayub memahami bahwa kedaulatan Tuhan mencakup segala musim hidup, baik musim berkat maupun musim padang gurun. Hubungan kita dengan Tuhan tidak boleh hanya didasari oleh kenyamanan. Jika kita hanya mau mengikut Tuhan saat semuanya lancar, maka kita menyembah "berkat", bukan menyembah "Allah". Iman yang dewasa mampu berkata, "Tuhan, jika Engkau mengizinkan ini terjadi, aku percaya Engkau tetap Tuhan yang baik dan berdaulat."Tiga sahabat Ayub datang untuk menghibur. Melihat penderitaan Ayub yang begitu hebat, mereka duduk bersamanya di tanah selama tujuh hari tujuh malam tanpa mengucapkan sepatah kata pun (ayat 13). Kadang-kadang, kehadiran lebih berarti daripada kata-kata. Saat melihat orang lain menderita, kita sering merasa harus memberi nasihat atau penjelasan teologis. Jadilah sahabat yang bersedia "duduk di debu" bersama mereka yang berduka, tanpa menghakimi atau menceramahi.Refleksi:Bagaimana perkataan istri Ayub mencerminkan suara keputusasaan yang bisa muncul dalam penderitaan?Mengapa Ayub menolak mengutuki Tuhan, meskipun tubuh dan martabatnya hancur?Apa perbedaan antara mempertahankan iman dan menekan emosi?Doa:Allah Bapa, kuatkanlah kami saat tubuh kami lemah dan jiwa kami lelah. Ajarlah kami untuk tetap memegang kesalehan kami bahkan ketika kami tidak memahami mengapa hal buruk terjadi. Kami mau belajar menerima segala musim dari tangan-Mu dengan ucapan syukur. Berikanlah kami juga hati yang empati untuk mendampingi mereka yang sedang menderita di sekitar kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.