Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

26 Oktober 2026

Siapakah yang Dapat Bertahan di Hadapan-Ku?

Tuhan melanjutkan dialog-Nya dengan memperkenalkan makhluk air (Lewiatan / buaya) yang sangat dahsyat dan menakutkan. Jika sebelumnya Tuhan berbicara tentang makhluk darat (Behemot), kini makhluk air (Lewiatan) digambarkan sebagai puncak dari segala makhluk yang menimbulkan kegentaran. Melalui deskripsi ini, Tuhan ingin memberikan pelajaran terakhir bagi Ayub mengenai kedaulatan, keagungan, dan otoritas-Nya yang mutlak. Mengakui kedaulatan Tuhan berarti mengakui bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa kita jinakkan, tetapi berada sepenuhnya dalam kendali tangan-Nya.Tuhan mengajukan serangkaian pertanyaan retoris kepada Ayub: "Dapatkah engkau menarik Lewiatan dengan kail? ... Dapatkah engkau menaruh tali hutan pada hidungnya?" Tuhan ingin menunjukkan bahwa Lewiatan bukanlah makhluk yang bisa dijadikan peliharaan atau dipermainkan oleh manusia. Manusia bahkan akan gemetar hanya dengan melihatnya. Kita tidak bisa mengontrol segala sesuatu. Sering kali kita merasa frustrasi karena ada situasi dalam hidup (penyakit, masalah ekonomi, atau konflik keluarga) yang tidak bisa kita "jinakkan" meskipun kita sudah berusaha keras. Lewiatan mengingatkan kita bahwa ada kekuatan di dunia ini yang melampaui kemampuan kita. Namun, apa yang tidak bisa dijinakkan oleh manusia, diciptakan dan dikendalikan oleh Tuhan. Berhentilah memaksakan diri untuk memegang kendali yang bukan milik kita.Tuhan berkata: "Siapa yang berani menghadapi dia (Lewiatan)? Siapa yang menghadapi Aku dan Aku harus membalasnya? Apa yang ada di seluruh kolong langit adalah milik-Ku.” Tuhan tidak berhutang kepada siapa pun. Jika menghadapi makhluk ciptaan-Nya saja manusia tidak berani, betapa lebih gentarnya kita seharusnya di hadapan Pencipta-Nya? Ayat ini mematahkan anggapan Ayub (dan sering kali anggapan kita) bahwa Tuhan "wajib" memberikan penjelasan atau berkat karena kita merasa sudah hidup benar. Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik-Nya. Kita hidup karena anugerah-Nya, bukan karena jasa-jasa kita.Tuhan menggambarkan detail fisik Lewiatan: giginya yang mengerikan, sisiknya yang rapat seperti perisai yang tidak bisa ditembus udara, hingga nafasnya yang digambarkan seperti api. Saat ia bangkit, orang yang paling berani pun menjadi gentar. Detail kerumitan hidup kita berada dalam desain Tuhan. Lewiatan adalah makhluk yang menakutkan, namun Tuhan membanggakan desain-Nya atas makhluk itu. Demikian juga dengan hidup kita. Ada bagian dari perjalanan hidup kita yang mungkin tampak "menakutkan" atau "keras" seperti sisik Lewiatan, namun Tuhan sedang menenun sesuatu yang luar biasa. Jika Tuhan memperhatikan detail setiap sisik makhluk air, Dia pasti memperhatikan setiap detail kebutuhan dan pergumulan kita.Lewiatan disebut sebagai "raja atas segala binatang yang ganas" karena ia tidak mengenal takut. Namun, di hadapan Tuhan, Lewiatan tetaplah hanya seekor ciptaan. Kerendahan hati adalah kunci pemulihan. Melalui Lewiatan, Tuhan sedang membidik kesombongan Ayub yang merasa berhak menggugat Tuhan. Saat kita melihat betapa besarnya Tuhan dan betapa kecilnya kita, di sanalah kita menemukan posisi yang benar. Jangan biarkan kesombongan membuat kita merasa lebih tahu dari Tuhan. Menundukkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat adalah jalan menuju kedamaian yang sejati.Refleksi:Apa yang kita rasakan ketika membaca gambaran tentang kekuatan Lewiatan yang tak tertandingi?Jika manusia tidak sanggup menaklukkan makhluk ciptaan seperti Lewiatan, bagaimana seharusnya sikap kita di hadapan Sang Pencipta?Apakah pernah merasa cukup kuat atau cukup bijak untuk “mengatur” hidup tanpa Tuhan?Doa:Allah Bapa, kami sujud di hadapan keagungan-Mu. Jika melihat kedahsyatan ciptaan-Mu saja kami gemetar, betapa seharusnya kami lebih hormat di hadapan-Mu, Sang Pencipta. Ampunilah kami jika kami sering mencoba mengatur jalan-Mu atau menuntut penjelasan dari-Mu. Kami percaya bahwa segala sesuatu di kolong langit adalah milik-Mu, termasuk hidup kami. Kami melepaskan kendali atas masalah kami dan menyerahkannya ke dalam tangan-Mu yang kuat. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

25 Oktober 2026

Bungkam di Hadapan Kedaulatan Tuhan

Setelah Tuhan menunjukkan kemegahan alam semesta, kini Ia menuntut respon dari Ayub. Jawaban terbaik bagi seorang beriman saat menghadapi misteri penderitaan bukanlah argumen yang panjang, melainkan tangan yang menutup mulut dalam penyembahan.Tuhan bertanya kepada Ayub: "Apakah si pembantah hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa?" Respon Ayub sangat luar biasa. Ia tidak lagi membela diri. Ia berkata, "Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan.” Kekuatan terbesar kita ditemukan dalam kerendahan hati. Seringkali kita merasa memiliki "hak" untuk memprotes Tuhan saat hidup terasa tidak adil. Kita merasa argumen kita paling benar. Namun, kedewasaan iman dimulai saat kita berhenti mencoba memenangkan perdebatan dengan Tuhan. Seperti Ayub, kita perlu belajar untuk "menutup mulut", berhenti mengeluh dan mulai mendengarkan. Ada kedamaian yang besar saat kita berhenti bertanya "Mengapa?" dan mulai berkata "Tuhan, Engkau berdaulat."Tuhan menantang Ayub dengan nada yang kuat: "Apakah engkau hendak meniadakan keadilan-Ku, menyatakan Aku bersalah supaya engkau dapat membenarkan dirimu?" Tuhan bertanya apakah Ayub memiliki lengan yang sekuat Tuhan atau suara yang dapat mengguntur seperti Dia. Jangan menghakimi Tuhan dengan standar manusia. Kita sering kali mencoba "mengadili" Tuhan di pengadilan pikiran kita. Kita menganggap Tuhan bersalah karena Ia membiarkan hal buruk terjadi. Namun, kita diingatkan bahwa perspektif kita sangat sempit. Kita tidak memiliki hikmat atau kekuatan untuk mengatur alam semesta. Alih-alih membenarkan diri sendiri dengan menyalahkan Tuhan, marilah kita berserah pada keadilan-Nya yang sempurna, meskipun belum terlihat oleh mata kita.Tuhan memperkenalkan Behemot (kuda nil), makhluk raksasa yang makan rumput seperti lembu namun memiliki kekuatan luar biasa pada pinggangnya dan ekor yang kaku seperti pohon aras. Tuhan menegaskan bahwa Behemot adalah "yang pertama dari jalan-jalan Tuhan" (ciptaan yang utama). Hanya Penciptanya yang dapat menjinakkan dia. Jika Tuhan sanggup mengendalikan yang dahsyat, Ia sanggup menjaga kita. Makhluk ini digambarkan begitu kuat sehingga tidak ada manusia yang berani mendekat. Tuhan menunjukkan Behemot kepada Ayub untuk berkata: "Lihatlah kekuatan ciptaan-Ku ini. Jika Aku bisa mengaturnya, apakah engkau masih meragukan kemampuan-Ku untuk mengatur hidupmu?" Penderitaan kita mungkin terasa seperti "Behemot" yang menakutkan, tetapi ingatlah bahwa Tuhan adalah Penciptanya, dan Ia memegang kendali atasnya.Behemot tidak takut pada sungai yang meluap. Ia tenang meskipun sungai Yordan meluncur ke mulutnya. Kekuatan ini melampaui segala yang dipahami Ayub. Ketenangan sejati ada dalam perlindungan Tuhan. Jika makhluk ciptaan saja bisa tetap tenang di tengah banjir karena kekuatan yang Tuhan berikan, apalagi kita yang adalah anak-anak-Nya. Di tengah "banjir" persoalan, janganlah panik. Kekuatan kita bukan berasal dari diri sendiri, melainkan dari Sang Pencipta yang jauh lebih besar dari segala monster atau badai apa pun yang kita hadapi.Refleksi:Apakah pernah terlalu cepat membela diri di hadapan Tuhan daripada mendengarkan-Nya?Bagaimana kesadaran akan kedaulatan Tuhan membentuk cara kita memandang penderitaan dan ketidakadilan?Apa perbedaan antara diam karena putus asa dan diam karena hormat kepada Tuhan?Doa:Allah Bapa, kami mengaku bahwa seringkali kami terlalu lancang dengan kata-kata kami di hadapan-Mu. Ampunilah kami jika kami mencoba menghakimi jalan-Mu yang tidak kami pahami. Hari ini, kami mau mengikuti jejak Ayub, menutup mulut kami dan menaruh tangan kami di atas mulut dalam kerendahan hati. Kami percaya bahwa Engkau adalah Tuhan yang Mahakuasa, dan tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang berada di luar kendali-Mu. Kami berserah penuh pada kedaulatan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.