Selamat datang di GKY Gerendeng!
Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Visi dan Misi Gereja
Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.
Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.
CREED
QT Terbaru
26 September 2026
Keagungan Tuhan yang Tak Terukur
Memberikan jawaban atas argumen Bildad, Ayub tidak membantah bahwa Tuhan itu adil, namun ia bergumul dengan satu masalah besar: Bagaimana mungkin manusia yang terbatas bisa berdiri benar di hadapan Tuhan yang begitu dahsyat? Kesenjangan antara kesucian Tuhan dan kerapuhan manusia begitu besar, sehingga kita membutuhkan lebih dari sekadar agama, kita membutuhkan Sang Pengantara.Ayub mengakui kebesaran Tuhan yang menciptakan bintang-bintang (Bintang Biduk, Bintang Belantik, Bintang Kartika) dan yang melakukan perbuatan besar yang tak terduga. Ia menyadari bahwa jika Tuhan datang untuk berperkara, manusia tidak akan sanggup menjawab satu pun dari seribu pertanyaan-Nya. Hiduplah dalam rasa gentar yang sehat terhadap Tuhan. Sering kali kita meremehkan Tuhan dengan menganggap-Nya seperti "teman sebaya" atau "mesin pengabul doa". Ayub mengingatkan kita bahwa Dia adalah Tuhan yang memindahkan gunung dan mengguncangkan bumi.Ayub merasa frustrasi karena meskipun ia merasa tidak bersalah atas tuduhan sahabat-sahabatnya, ia tidak sanggup membela diri di hadapan Tuhan. Ia merasa seolah-olah pengadilan Tuhan tidak memihak kepada orang yang menderita. Iman berarti percaya saat kita tidak mengerti. Ada saat-saat di mana kita merasa Tuhan tidak adil atau membiarkan orang fasik menang. Ayub berbicara dari sudut pandang manusia yang sedang hancur. Namun, ingatlah bahwa keterbatasan pemahaman kita tidak mengubah karakter Tuhan. Saat logika kita tidak menemukan jawaban, biarkan iman kita yang memegang janji-Nya.Kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Usaha terbaik manusia untuk hidup suci tetaplah tidak cukup di hadapan standar keadilan Tuhan yang sempurna. Jangan mengandalkan kebaikan moral kita untuk merasa "layak" di hadapan Tuhan. Kesadaran akan ketidakberdayaan kita adalah pintu masuk bagi kita untuk memohon belas kasihan-Nya. Ayub merindukan seorang Perantara yang bisa menjembatani jurang antara Tuhan yang Maha Tinggi dan manusia yang penuh penderitaan. Yesus Kristus adalah jawaban atas jeritan Ayub. Di dalam Kristus, ketakutan kita terhadap keagungan Tuhan berubah menjadi kedamaian karena kita tahu kita sudah diterima.Refleksi:Bagaimana pengakuan Ayub tentang kebesaran dan kuasa Tuhan membentuk cara kita memandang Tuhan?Apa artinya bahwa tidak ada seorang pun dapat “membenarkan diri” di hadapan Tuhan?Apakah pernah merasa tidak didengar atau tidak mampu menyampaikan perkara kita kepada Tuhan?Doa:Allah Bapa, kami bersyukur karena Engkau adalah Pengantara yang dirindukan oleh Ayub. Terima kasih karena melalui Engkau, jurang pemisah antara kami yang berdosa dan Tuhan yang Suci telah dijembatani. Saat kami merasa tidak berdaya dan tidak memahami jalan-Mu, ingatkanlah kami bahwa kami tidak perlu membela diri kami sendiri karena Engkaulah Pembela kami. Kami menaruh seluruh hidup kami di bawah kedaulatan-Mu yang agung. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
25 September 2026
Rumus Manusia tentang Tuhan
Jika Elifas mendasarkan argumennya pada pengalaman spiritual, Bildad adalah seorang tradisionalis. Ia sangat menjunjung tinggi keadilan Tuhan secara hitam-putih: "Jika kamu benar, kamu sukses; jika kamu menderita, kamu pasti salah.” Tuhan memang Maha Adil, namun keadilan-Nya tidak selalu bekerja sesuai dengan logika sempit manusia yang sering kali melupakan kasih karunia.Bildad memulai dengan teguran keras. Ia membela keadilan Tuhan dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin membengkokkan kebenaran. Namun, ia menarik kesimpulan yang kejam: ia menyebut bahwa anak-anak Ayub mati karena dosa-dosa mereka sendiri. Hati-hatilah dalam menghubungkan musibah dengan dosa. Bildad terjebak dalam teologi yang kaku. Memang benar Tuhan itu adil, tetapi kita tidak berhak menjadi "hakim" yang menentukan bahwa setiap penderitaan adalah hukuman. Menghakimi orang yang sedang berduka dengan menyebut penderitaan mereka sebagai akibat dosa adalah sebuah kekejaman rohani yang tidak mencerminkan hati Kristus.Bildad memberikan janji yang terdengar manis: "Jika engkau mencari Tuhan... maka Ia akan bangkit demi engkau." Ia berjanji bahwa jika Ayub bersih, maka masa depan Ayub akan menjadi jauh lebih besar dari permulaannya. Tuhan bukanlah "mesin" yang bisa kita atur dengan kebaikan kita. Nasihat Bildad seolah-olah menjadikan kesalehan sebagai alat untuk memaksa Tuhan memberkati. Kita mencari Tuhan bukan supaya kita menjadi kaya atau sukses, melainkan karena kita membutuhkan-Nya.Bildad meminta Ayub untuk belajar dari "angkatan yang dahulu" dan nenek moyang. Ia merasa bahwa pengetahuan manusia yang baru hanyalah sekejap dan terbatas, sehingga tradisi kuno adalah kebenaran mutlak. Tradisi itu baik, tapi pengenalan pribadi akan Tuhan lebih utama. Kita bisa belajar banyak dari sejarah iman, namun Tuhan adalah pribadi yang hidup dan bisa bekerja dengan cara yang baru dalam hidup kita. Jangan membatasi kuasa Tuhan hanya pada apa yang pernah terjadi di masa lalu. Bukalah hati untuk tuntunan Roh Kudus yang segar di tengah penderitaan Kita.Bildad menggunakan ilustrasi tanaman papirus yang layu tanpa air atau sarang laba-laba yang rapuh untuk menggambarkan orang yang melupakan Tuhan. Sebaliknya, ia menjamin bahwa Tuhan tidak akan menolak orang yang saleh. Di mana letak kepercayaan kita? Di bagian ini, Bildad benar: hidup tanpa Tuhan memang rapuh seperti sarang laba-laba. Namun, ia salah sangka terhadap Ayub. Ayub justru menderita karena imannya sedang diuji, bukan karena ia melupakan Tuhan. Tetaplah berakar di dalam Tuhan, karena Dialah satu-satunya fondasi yang tidak akan goyah saat badai menerpa.Refleksi:Apa bahaya dari menyimpulkan bahwa penderitaan pasti akibat dosa tertentu?Bagaimana kita dapat membedakan antara mempercayai keadilan Tuhan dan menyederhanakan cara kerja-Nya?Bagaimana kita bisa belajar memegang kebenaran tentang Tuhan tanpa kehilangan belas kasih terhadap sesama?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika kami sering berpikir secara kaku tentang keadilan-Mu dan menjadi hakim bagi sesama kami. Ajarlah kami untuk mencari wajah-Mu dengan hati yang tulus, bukan karena ingin pamrih. Kami percaya bahwa Engkau adalah Tuhan yang adil, namun juga penuh kasih karunia. Di tengah badai hidup kami, biarlah akar kami tetap menancap kuat pada kasih-Mu yang tidak berkesudahan. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT