Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

28 September 2026

Lidah yang Cepat Menghakimi

Zofar, sahabat ketiga, yang angkat suara. Jika Elifas bicara berdasarkan pengalaman dan Bildad berdasarkan tradisi, Zofar bicara dengan nada yang sangat dogmatis dan kasar. Ia merasa sebagai pembela kebenaran Tuhan yang paling murni, namun ia melakukannya tanpa setetes pun rasa empati. Kata-kata yang benar secara teologis bisa menjadi racun yang mematikan jika disampaikan tanpa kasih dan pengertian akan penderitaan sesama.Zofar membuka bicaranya dengan serangan pribadi. Ia menyebut Ayub sebagai "orang yang banyak bicara" dan "pembual". Bahkan, ia melontarkan pernyataan yang sangat kejam: ia menyebut bahwa Tuhan sebenarnya menghukum Ayub kurang dari yang seharusnya ia terima karena dosa-dosanya (ayat 6). Hati-hatilah dengan kesombongan rohani. Zofar merasa paling tahu standar dosa dan hukuman Tuhan. Saat kita melihat orang lain jatuh atau menderita, godaan terbesar kita adalah merasa "lebih suci" atau "lebih benar". Mengatakan bahwa penderitaan seseorang adalah hukuman Tuhan yang pantas diterimanya bukanlah tugas kita. Tugas kita adalah menyatakan kasih Kristus, bukan menjadi hakim bagi penderitaan sesama.Zofar memberikan penjelasan yang indah tentang kebesaran Tuhan. Ia berkata bahwa hikmat Tuhan lebih tinggi dari langit dan lebih dalam dari dunia orang mati. Namun, ia menggunakan kebenaran ini untuk merendahkan Ayub, menyebut manusia yang bebal tidak akan mungkin menjadi bijak (ayat 12). Jangan gunakan keagungan Tuhan untuk merendahkan manusia. Memang benar pikiran Tuhan jauh melampaui pikiran kita, tetapi kebenaran ini seharusnya membuat kita rendah hati, bukan membuat kita sombong terhadap orang lain. Jika kita benar-benar menyadari betapa besarnya Tuhan, kita akan sadar bahwa kita pun tidak layak untuk menghakimi siapa pun.Zofar memberikan resep pemulihan: "Jikalau engkau ini meneguhkan hatimu... menjauhkan kejahatan..." (ayat 13-14). Ia menjanjikan bahwa jika Ayub bertobat, maka hidupnya akan menjadi terang dan ia akan lupa pada kesusahannya. Pemulihan Tuhan bukanlah sebuah transaksi. Zofar berpikir bahwa jika kita melakukan "A", maka Tuhan wajib melakukan "B". Ini adalah teologi "kemakmuran" yang dangkal. Kita bertobat bukan supaya hidup kita jadi sukses, tapi karena kita mengasihi Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan tetap menyertai Ayub meskipun Ayub belum "pulih" secara lahiriah. Jangan pernah mendikte bagaimana cara Tuhan harus memberkati seseorang.Zofar menutup dengan ancaman bahwa orang fasik tidak akan mendapat jalan luput dan harapan mereka akan lenyap. Ia seolah-olah memberikan vonis terakhir bahwa Ayub akan berakhir seperti itu jika tidak mengikuti saran para sahabatnya. Harapan kita ada di dalam Kristus, bukan dalam penilaian manusia. Zofar melihat masa depan Ayub sangat gelap, namun kita tahu bahwa akhir hidup Ayub penuh dengan kemuliaan Tuhan. Jangan biarkan "vonis" orang lain atau penghakiman lingkungan membuat kita kehilangan harapan.Refleksi:Mengapa dalam menghadapi penderitaan orang lain, kita bisa tergoda untuk segera menyimpulkan kesalahan mereka?Apa bahaya dari merasa diri paling benar secara rohani ketika menasihati orang lain?Bagaimana kita bisa membedakan antara menegur dengan kasih dan menghakimi dengan kesombongan?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika kami sering menjadi 'Zofar' bagi orang-orang di sekitar kami, cepat menghakimi dan merasa paling benar. Berikanlah kami hati yang lembut untuk bisa berempati dengan mereka yang menderita. Ajarlah kami untuk menggunakan kebenaran Firman-Mu sebagai obat penyembuh, bukan sebagai senjata untuk melukai. Kami bersyukur karena pengharapan kami ada di dalam tangan-Mu yang penuh rahmat. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

27 September 2026

Tangan Sang Penjunan

Ayub tidak lagi berbicara kepada para sahabatnya; ia berbicara langsung kepada Tuhan dalam sebuah doa yang penuh dengan kebingungan, rasa sakit, dan pertanyaan eksistensial. Ayub merasa seperti seorang tawanan yang sedang diinterogasi oleh penciptanya sendiri. Tuhan tidak hanya menciptakan kita dengan kasih, tetapi Dia juga menopang kita dalam masa-masa sulit, bahkan saat tangan-Nya terasa seperti sedang menekan kita.Ayub memulai dengan pernyataan yang sangat jujur: "Aku telah jemu hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku..." Ia meminta Tuhan untuk tidak sekadar menghukumnya, tetapi memberitahunya mengapa Ia berperkara dengannya. Tuhan tidak takut dengan pertanyaanmu. Iman bukanlah peniadaan emosi atau kebungkaman di hadapan derita. Ayub mengajarkan bahwa ketika hidup terasa tidak adil, tempat terbaik untuk "melampiaskan keluhan" adalah di hadapan Tuhan, bukan di belakang-Nya. Tuhan lebih menghargai kejujuran yang pahit daripada kesalehan yang palsu.Ayub mengingatkan Tuhan bahwa tangan Tuhan sendirilah yang telah membentuknya dengan teliti, seperti tanah liat yang dikerjakan oleh penjunan, atau seperti susu yang dikentalkan menjadi keju. Ia mengakui bahwa Tuhan telah memberikan hidup, kasih setia, dan pemeliharaan kepadanya di masa lalu. Tuhan yang membentuk kita tidak akan menghancurkan kita tanpa maksud. Ayub sedang mengalami krisis identitas; ia bingung mengapa tangan yang dulu membentuknya dengan kasih, kini seolah-olah sedang meremukkannya. Ingatlah bahwa Tuhan yang merancang detail hidup kita tidak pernah bertindak tanpa tujuan. Meskipun saat ini "tangan-Nya" terasa berat, itu adalah tangan yang sama yang telah merajut kita di dalam kandungan ibu.Ayub merasa bahwa Tuhan sengaja "menyembunyikan" rencana untuk menyiksanya. Ia merasa seolah-olah setiap gerak-geriknya diincar, dan setiap kali ia mencoba bangkit, Tuhan menyerangnya seperti singa yang memburu mangsa. Perasaan kita bukanlah kebenaran mutlak. Saat depresi atau penderitaan datang, pandangan kita terhadap Tuhan sering kali menjadi terdistorsi. Kita mulai melihat Tuhan sebagai "polisi" atau "pemburu", bukan sebagai Bapa. Ayub mengungkapkan apa yang ia rasakan, bukan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar surga. Jangan biarkan perasaan kita tentang Tuhan di masa sulit merusak kebenaran tentang karakter Tuhan yang penuh kasih.Ayub kembali ke titik keputusasaan yang dalam. Ia berharap ia tidak pernah lahir, atau setidaknya Tuhan membiarkannya tenang sejenak sebelum ia pergi ke "negeri kegelapan" (kematian). Masa gelap adalah bagian dari proses iman. Jika saat ini kita merasa hidup kita gelap dan tidak ada harapan, ketahuilah bahwa banyak pahlawan iman pernah berada di posisi itu. Tetaplah bertahan, karena kegelapan bukanlah akhir dari cerita Tuhan bagi kita.Refleksi:Apa yang dirasakan ketika membayangkan Tuhan sebagai Penjunan yang membentuk hidup kita, termasuk bagian yang menyakitkan?Mengapa Ayub bergumul antara keyakinan bahwa Tuhan membentuknya dengan indah dan kenyataan bahwa ia sedang menderita?Apakah pernah merasa seolah-olah Tuhan sedang “melawan” kita? Bagaimana kita memproses perasaan itu?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkaulah yang telah membentuk hidup kami dengan tangan-Mu sendiri. Ampunilah kami jika dalam kesesakan Kami, kami sering memandang-Mu dengan keliru. Saat kami merasa lelah dan jemu hidup, berikanlah kami kelegaan yang dari pada-Mu. Kami percaya bahwa tangan yang telah membentuk kami adalah tangan yang juga akan memulihkan kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.