Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

1 Oktober 2026

Kerapuhan Hidup

Ayub merenungkan betapa singkat, rapuh, dan terbatasnya hidup ini. Di tengah rasa sakitnya, ia bergumul dengan sebuah pertanyaan besar: Jika manusia mati, dapatkah ia hidup kembali? Hidup manusia mungkin terlihat seperti bunga yang layu, tetapi di tangan Tuhan, ada harapan yang melampaui kematian.Ayub menggambarkan manusia dengan sangat puitis namun tragis: "Ia mekar seperti bunga, lalu layu; ia melayang seperti bayang-bayang dan tidak menetap." Hidup manusia telah ditentukan batasnya oleh Tuhan, dan tidak ada yang bisa melampaui ketetapan itu. Kesadaran akan singkatnya hidup seharusnya membuat kita bijak. Kita sering hidup seolah-olah kita memiliki waktu selamanya di dunia ini, mengejar hal-hal fana hingga lupa pada kekekalan. Ayub mengingatkan bahwa hidup kita hanyalah sebuah "mampir minum". Kesadaran ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan agar kita mengisi setiap detik yang dipinjamkan Tuhan dengan hal-hal yang bernilai kekal.Ayub membuat perbandingan yang menyedihkan. Sebuah pohon, jika ditebang, masih memiliki harapan untuk bertunas kembali melalui air. Namun manusia, jika ia mati, ia terbaring dan tidak bangun lagi sampai langit lenyap. Secara kasat mata, manusia tampak lebih rendah nasibnya daripada sebatang pohon. Secara manusiawi, maut adalah akhir, tetapi Tuhan punya rencana lain. Ayub berbicara dari perspektif sebelum adanya kejelasan tentang kebangkitan. Namun bagi kita yang hidup di dalam Kristus, kita tahu bahwa "Pohon Kehidupan" yang sejati (Yesus) telah ditebang di Kalvari agar kita yang mati secara rohani dapat bertunas kembali. Harapan kita tidak lagi bergantung pada hukum alam, melainkan pada kemenangan Kristus atas maut.Di tengah keputusasaannya, muncul kilatan harapan. Ayub bertanya, "Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup kembali?" (ayat 14). Ia merindukan waktu di mana Tuhan akan "memanggil" dan dia akan "menjawab", di mana Tuhan tidak lagi menghitung-hitung dosanya melainkan membungkus pelanggarannya dalam sebuah pundi-pundi. Tuhan merindukan hubungan dengan ciptaan-Nya. Kalimat Ayub, "Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu" (ayat 15), menunjukkan sebuah kebenaran agung: Tuhan tidak menciptakan kita untuk kemudian membuang kita begitu saja. Dia mengasihi kita. Pundi-pundi yang membungkus dosa yang dirindukan Ayub kini telah digenapi di dalam pengorbanan Yesus. Dosa kita tidak lagi dihitung karena darah-Nya telah menutupinya.Ayub menutup pasalnya dengan pengamatan bahwa bahkan gunung pun bisa runtuh dan batu kersani bisa terkikis oleh air. Begitu pulalah harapan manusia secara lahiriah akan terkikis oleh usia dan penderitaan. Tubuh kita akan merasa sakit dan jiwa kita akan berduka. Jangan menaruh harapan pada apa yang bisa terkikis, kesehatan, kecantikan, dan kekuatan fisik kita adalah "batu" yang perlahan akan terkikis oleh waktu. Jika harapan kita diletakkan pada hal-hal duniawi, kita akan berakhir dalam duka. Taruhlah harapan kita pada Dia yang tidak berubah oleh waktu, yaitu Tuhan yang kekal.Refleksi:Bagaimana gambaran hidup manusia sebagai “singkat dan penuh kesusahan” menolong kita melihat realitas hidup dengan jujur?Apa pertanyaan terdalam tentang kematian dan kehidupan setelahnya?Bagaimana kita dapat memegang harapan di tengah kenyataan bahwa hidup terasa rapuh dan tidak pasti?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkau adalah sumber harapan kami. Kami sadar bahwa hidup kami di dunia ini singkat dan rapuh seperti bunga di padang. Ajarlah kami untuk menghitung hari-hari kami sedemikian rupa sehingga kami beroleh hati yang bijaksana. Terima kasih karena Engkau tidak menghitung dosa kami, melainkan telah menebus kami. Biarlah di tengah tubuh yang mulai lemah, jiwa kami tetap kuat karena berpegang pada janji kekekalan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

30 September 2026

Percaya Sampai Mati

Ayub mencapai titik di mana ia merasa tidak lagi perlu berdebat dengan manusia. Ia menyadari bahwa para sahabatnya hanyalah "tabib yang tidak berguna" yang mencoba membela Tuhan dengan kebohongan. Ayub memutuskan untuk membawa kasusnya langsung ke takhta tertinggi, meskipun ia tahu risiko berdiri di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa bisa berarti kematian. Iman yang sejati bukanlah iman yang hanya percaya saat diberkati, melainkan iman yang tetap memegang tangan Tuhan bahkan ketika Tuhan seolah-olah menjadi lawan kita.Ayub menegaskan bahwa ia tidak lebih bodoh dari sahabat-sahabatnya. Ia menyebut mereka sebagai "penambal kebohongan." Ayub merasa bahwa nasihat-nasihat mereka justru memperkeruh suasana karena mereka mencoba menjelaskan misteri Tuhan dengan logika yang dangkal. Manusia memiliki keterbatasan dalam menghibur. Ada luka-luka di dalam hidup kita yang tidak bisa disembuhkan oleh kata-kata bijak manusia atau teori teologi. Janganlah menggantungkan kedamaian hatimu pada validasi orang lain. Terkadang, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah berhenti mendengarkan "suara dunia" dan mulai memusatkan seluruh perhatian kita untuk berbicara langsung kepada Tuhan.Ayub menegur sahabatnya karena mereka mencoba "mengambil muka" di hadapan Tuhan dengan menyalahkan Ayub. Ayub percaya bahwa Tuhan tidak butuh dibela dengan ketidakjujuran. Tuhan lebih menghargai kebenaran yang pahit daripada sanjungan yang palsu. Tuhan tidak membutuhkan pembelaan yang munafik. Sering kali kita merasa perlu "menutupi" perasaan kecewa kita kepada Tuhan agar terlihat saleh. Namun, Ayub mengajarkan bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil; Dia tahu isi hati kita. Jangan takut untuk jujur di hadapan-Nya. Dia jauh lebih dimuliakan ketika kita datang dengan hati yang hancur apa adanya daripada dengan topeng religiusitas.Inilah salah satu pernyataan iman terbesar dalam Alkitab: "Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, namun aku tetap berharap kepada-Nya" (ayat 15, terjemahan lain). Ayub tahu risikonya menghadapi Tuhan, namun ia yakin bahwa kejujurannya akan menjadi keselamatannya karena orang fasik tidak mungkin berani menghadap Tuhan. Iman adalah keputusan untuk tetap berharap saat keadaan tidak kunjung membaik. Mudah untuk berharap saat ada tanda-tanda pemulihan. Namun, Ayub berharap justru saat ia merasa "ajalnya" sudah di depan mata. Apakah kita tetap bisa berkata, "Tuhan, sekalipun keadaan ini menghancurkan aku, aku tetap percaya Engkau baik"? Inilah jenis iman yang mengalahkan dunia.Ayub meminta dua hal kepada Tuhan: agar tangan Tuhan jangan menekan dia terlalu berat dan agar ketakutan akan Tuhan tidak mengejutkannya. Ia ingin tahu apa kesalahan dan dosanya sehingga Tuhan menyembunyikan wajah-Nya dan menganggapnya sebagai musuh. Dibalik pertanyaan "Mengapa", carilah wajah-Nya. Ayub merasa seperti daun yang ditiup angin atau jerami yang kering (ayat 25). Ia merasa kecil dan rapuh. Namun, perhatikan bahwa Ayub tetap memanggil Tuhan. Walau ia merasa Tuhan jauh, ia tetap mengejar kehadiran-Nya. Saat kita merasa Tuhan menyembunyikan wajah-Nya, jangan berhenti mencari. Kegelapan bukanlah tanda ketidakhadiran Tuhan, melainkan sering kali merupakan tempat di mana iman kita dimurnikan secara paling dalam.Refleksi:Bagaimana keberanian Ayub untuk membawa perkaranya langsung kepada Tuhan menantang cara kita berdoa?Apa arti pernyataan Ayub bahwa ia tetap berharap kepada Tuhan sekalipun harus menghadapi risiko besar?Apa yang bagian ini ajarkan tentang pentingnya integritas di tengah tekanan?Doa:Allah Bapa, terima kasih atas teladan keberanian Ayub. Ajarlah kami untuk memiliki iman yang tak tergoyahkan, yang tidak bergantung pada situasi di sekeliling kami. Saat kami merasa lemah seperti daun yang tertiup angin, ingatkanlah kami bahwa kami tetap berharga di mata-Mu. Kami mau tetap berharap kepada-Mu, bahkan di saat kami tidak memahami jalan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.