Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

25 September 2026

Rumus Manusia tentang Tuhan

Jika Elifas mendasarkan argumennya pada pengalaman spiritual, Bildad adalah seorang tradisionalis. Ia sangat menjunjung tinggi keadilan Tuhan secara hitam-putih: "Jika kamu benar, kamu sukses; jika kamu menderita, kamu pasti salah.” Tuhan memang Maha Adil, namun keadilan-Nya tidak selalu bekerja sesuai dengan logika sempit manusia yang sering kali melupakan kasih karunia.Bildad memulai dengan teguran keras. Ia membela keadilan Tuhan dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin membengkokkan kebenaran. Namun, ia menarik kesimpulan yang kejam: ia menyebut bahwa anak-anak Ayub mati karena dosa-dosa mereka sendiri. Hati-hatilah dalam menghubungkan musibah dengan dosa. Bildad terjebak dalam teologi yang kaku. Memang benar Tuhan itu adil, tetapi kita tidak berhak menjadi "hakim" yang menentukan bahwa setiap penderitaan adalah hukuman. Menghakimi orang yang sedang berduka dengan menyebut penderitaan mereka sebagai akibat dosa adalah sebuah kekejaman rohani yang tidak mencerminkan hati Kristus.Bildad memberikan janji yang terdengar manis: "Jika engkau mencari Tuhan... maka Ia akan bangkit demi engkau." Ia berjanji bahwa jika Ayub bersih, maka masa depan Ayub akan menjadi jauh lebih besar dari permulaannya. Tuhan bukanlah "mesin" yang bisa kita atur dengan kebaikan kita. Nasihat Bildad seolah-olah menjadikan kesalehan sebagai alat untuk memaksa Tuhan memberkati. Kita mencari Tuhan bukan supaya kita menjadi kaya atau sukses, melainkan karena kita membutuhkan-Nya.Bildad meminta Ayub untuk belajar dari "angkatan yang dahulu" dan nenek moyang. Ia merasa bahwa pengetahuan manusia yang baru hanyalah sekejap dan terbatas, sehingga tradisi kuno adalah kebenaran mutlak. Tradisi itu baik, tapi pengenalan pribadi akan Tuhan lebih utama. Kita bisa belajar banyak dari sejarah iman, namun Tuhan adalah pribadi yang hidup dan bisa bekerja dengan cara yang baru dalam hidup kita. Jangan membatasi kuasa Tuhan hanya pada apa yang pernah terjadi di masa lalu. Bukalah hati untuk tuntunan Roh Kudus yang segar di tengah penderitaan Kita.Bildad menggunakan ilustrasi tanaman papirus yang layu tanpa air atau sarang laba-laba yang rapuh untuk menggambarkan orang yang melupakan Tuhan. Sebaliknya, ia menjamin bahwa Tuhan tidak akan menolak orang yang saleh. Di mana letak kepercayaan kita? Di bagian ini, Bildad benar: hidup tanpa Tuhan memang rapuh seperti sarang laba-laba. Namun, ia salah sangka terhadap Ayub. Ayub justru menderita karena imannya sedang diuji, bukan karena ia melupakan Tuhan. Tetaplah berakar di dalam Tuhan, karena Dialah satu-satunya fondasi yang tidak akan goyah saat badai menerpa.Refleksi:Apa bahaya dari menyimpulkan bahwa penderitaan pasti akibat dosa tertentu?Bagaimana kita dapat membedakan antara mempercayai keadilan Tuhan dan menyederhanakan cara kerja-Nya?Bagaimana kita bisa belajar memegang kebenaran tentang Tuhan tanpa kehilangan belas kasih terhadap sesama?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika kami sering berpikir secara kaku tentang keadilan-Mu dan menjadi hakim bagi sesama kami. Ajarlah kami untuk mencari wajah-Mu dengan hati yang tulus, bukan karena ingin pamrih. Kami percaya bahwa Engkau adalah Tuhan yang adil, namun juga penuh kasih karunia. Di tengah badai hidup kami, biarlah akar kami tetap menancap kuat pada kasih-Mu yang tidak berkesudahan. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

24 September 2026

"Apakah Manusia Itu?"

Ayub mengalihkan pandangannya langsung kepada Tuhan. Sebuah "doa yang berantakan”, penuh dengan keluhan, kelelahan, dan pertanyaan tajam. Namun, di balik itu semua, Ayub menunjukkan bahwa ia tetap mencari Tuhan, bukan lari dari-Nya. Iman tidak selalu berarti memiliki jawaban; terkadang iman adalah keberanian untuk tetap berbicara kepada Tuhan di tengah malam yang paling gelap.Ayub membandingkan hidupnya dengan seorang pekerja harian atau budak yang merindukan bayang-bayang senja untuk beristirahat. Ia menderita insomnia, kegelisahan, dan sakit fisik yang membuat hari-harinya berlalu tanpa harapan. Ia merasa hidupnya hanyalah "embusan nafas" yang singkat. Tuhan memahami batas kekuatan kita. Ada saat-saat di mana beban hidup terasa begitu berat sehingga kita merasa waktu berjalan sangat lambat namun hidup terasa sia-sia. Ayub mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa untuk mengakui bahwa kita lelah. Tuhan tidak mencari "pahlawan" yang berpura-pura kuat; Dia mencari anak-anak yang mau bersandar sepenuhnya karena mereka tahu mereka tidak berdaya.Ayub berkata, "Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku..." (ayat 11). Ia bahkan mempertanyakan mengapa Tuhan seolah-olah menjaga dan mengintai hidupnya seperti musuh atau "naga laut" (ayat 12), memberikan mimpi buruk dan ketakutan. Tuhan cukup besar untuk menampung protesmu. Keunikan Ayub adalah ia tidak membicarakan Tuhan di belakang-Nya; ia berbicara langsung kepada Tuhan. Sering kali kita merasa tabu untuk mengeluh kepada Tuhan. Namun, hubungan yang hidup menuntut kejujuran. Tuhan lebih menyukai keluhan yang jujur daripada pujian yang palsu. Dia mengerti bahwa di balik kemarahan Ayub, ada kerinduan yang mendalam akan kehadiran-Nya yang memulihkan.Ayub memplesetkan Mazmur 8 dengan nada pahit. Jika pemazmur bertanya "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?" dengan rasa kagum, Ayub bertanya dengan rasa sesak: "Apakah manusia, sehingga Engkau membesarkannya... mengunjungi dia setiap pagi dan menguji dia setiap saat?" Perhatian Tuhan terkadang terasa menyesakkan sebelum kita mengerti maksud-Nya. Saat diuji, kita sering merasa Tuhan terlalu keras pada kita. Namun, faktanya adalah: Tuhan sangat memperhatikan kita. Meski perhatian itu terasa seperti ujian yang berat, itu membuktikan bahwa kita berharga bagi-Nya.Ayub bertanya, "Mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku?" Ayub merasa ajalnya sudah dekat dan ia ingin berdamai dengan Tuhan sebelum ia menjadi debu. Selesaikanlah urusan kita dengan Tuhan hari ini. Di tengah rasa sakitnya, fokus utama Ayub tetaplah hubungannya dengan Sang Pencipta. Apapun masalah yang kita hadapi, jangan biarkan masalah itu menghalangi kita untuk memohon kasih karunia-Nya. Jangan biarkan hari berlalu tanpa membawa hati kita yang hancur ke kaki salib Kristus, tempat di mana pengampunan dan pemulihan itu tersedia secara nyata.Refleksi:Apa yang Ayub ungkapkan tentang kerapuhan dan kefanaan manusia, dan bagaimana itu berbicara tentang kondisi kita hari ini?Ayub berbicara terus terang kepada Tuhan tentang rasa sakitnya. Apakah kita memiliki keberanian untuk berdoa dengan kejujuran seperti itu?Apa perbedaan antara mempertanyakan Tuhan dan meninggalkan Tuhan?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkau adalah Tuhan yang sabar mendengarkan jeritan hati kami. Saat hidup kami terasa berat dan hari-hari kami terasa hampa, peganglah tangan kami agar kami tidak menyerah. Ampunilah kami jika kami sering meragukan kebaikan-Mu di tengah ujian. Kami mau belajar jujur di hadapan-Mu, percaya bahwa dalam kelemahan kami, kuasa-Mu menjadi sempurna. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.