Selamat datang di GKY Gerendeng!
Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Visi dan Misi Gereja
Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.
Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.
CREED
QT Terbaru
22 Juni 2026
Tragedi Ketidaksetiaan
Sebuah kisah tragis, akhir hidup Saul, menandai transisi dari daftar silsilah menuju sejarah kerajaan. Bagian ini juga menjadi peringatan tentang pentingnya ketidaksetiaan dan kedaulatan Tuhan.Kisah Saul berakhir di atas pegunungan Gilboa. Seorang raja yang awalnya diurapi dengan megah, harus mengakhiri hidupnya dalam kekalahan dan keputusasaan. Melalui akhir hidup Saul, kita belajar tentang seriusnya hubungan kita dengan Tuhan.Ringkasan yang tajam tentang mengapa Saul gagal dituliskan disini: "Demikianlah Saul mati karena ketidaksetiaannya terhadap TUHAN." Saul tidak hanya gagal secara militer, tetapi ia gagal secara spiritual. Ia tidak berpegang pada firman TUHAN dan lebih memilih meminta petunjuk dari arwah daripada bertanya kepada Tuhan. Seringkali, kejatuhan besar dalam hidup kita tidak terjadi secara mendadak. Ia dimulai dari kompromi-kompromi kecil, saat kita mulai berhenti mendengar suara Tuhan dan mulai mencari "jalan pintas" atau hikmat duniawi untuk menyelesaikan masalah kita.Meskipun pasal ini menceritakan kemenangan bangsa Filistin dan kematian Saul, juga memberikan sudut pandang ilahi yang mengejutkan: "Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai.” Secara fisik, Saul mati karena luka panah dan pedangnya sendiri. Namun secara teologis, ditegaskan bahwa Tuhanlah yang berdaulat. Tuhan tidak pernah kehilangan kendali. Ketika seorang pemimpin gagal, Tuhan tidak bingung; Dia sedang mempersiapkan transisi menuju rencana-Nya yang lebih besar, yaitu melalui Daud.Kesalahan terbesar Saul yang dicatat di sini adalah ia "tidak meminta petunjuk TUHAN". Saul berdoa hanya saat keadaan terjepit, tetapi ia tidak membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ini adalah teguran bagi kita. Apakah kita hanya mencari Tuhan saat badai datang? Ataukah kita menjadikan Dia sumber petunjuk utama dalam setiap keputusan kecil maupun besar? Mencari Tuhan bukan sekadar ritual, melainkan pengakuan bahwa tanpa Dia, kita tidak mampu melangkah di jalan yang benar.Refleksi:Bagaimana bagian ini menolong kita memahami bahwa kegagalan kepemimpinan rohani membawa dampak luas, bukan hanya pribadi?Apa perbedaan antara penyesalan Saul dan pertobatan sejati menurut perspektif Alkitab?Langkah pertobatan dan pembaruan kesetiaan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan setelah merenungkan tragedi Saul?Doa:Allah Bapa, ajarlah kami untuk tetap setia kepada-Mu sampai akhir. Jauhkan kami dari sikap sombong yang merasa bisa melangkah tanpa petunjuk-Mu. Saat kami jatuh, ingatkan kami bahwa Engkau tetap berdaulat atas sejarah hidup kami. Biarlah hati kami selalu terpaut pada firman-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
21 Juni 2026
Tugas yang Tidak Terlihat
Membangun kembali sesuatu yang telah hancur seringkali jauh lebih sulit daripada membangun dari awal. Inilah yang dialami oleh umat Israel yang kembali ke Yerusalem. Kota itu tidak lagi semegah dulu, namun pasal ini mencatat mereka yang bersedia kembali untuk mengisi pos pelayanan mereka.Dan pasal ini memberikan perhatian besar pada para penunggu pintu gerbang. Pekerjaan mereka mungkin terlihat sederhana atau kurang bergengsi dibandingkan imam yang mempersembahkan korban. Namun, Alkitab mencatat mereka dengan sangat teliti.Mereka bertanggung jawab atas keamanan, penyimpanan barang kudus, bahkan hal detail seperti mengurus tepung dan minyak untuk roti sajian. Ini mengajarkan kita bahwa setiap bentuk pelayanan adalah penting di mata Tuhan. Kesetiaan kita pada hal-hal kecil "di balik layar" adalah yang menjaga rumah Tuhan tetap berfungsi dengan baik.Sebelum mencatat siapa yang menetap di Yerusalem, penulis mengingatkan bahwa pembuangan ke Babel terjadi karena ketidaksetiaan umat. Namun, daftar nama setelahnya menunjukkan bahwa Tuhan tidak membuang mereka selamanya. Ketika mereka kembali, mereka kembali kepada tatanan yang sudah ditetapkan Tuhan sejak zaman Musa dan Daud. Di dunia yang terus berubah, kita perlu berpegang pada identitas kita sebagai umat Allah. Kembali kepada firman-Nya adalah satu-satunya cara untuk membangun kembali hidup yang sempat hancur karena kegagalan masa lalu.Penyebutan para imam, orang Lewi, dan pemimpin keluarga yang menetap di Yerusalem menunjukkan bahwa ibadah adalah jantung dari komunitas yang baru ini. Mereka tidak hanya membangun rumah mereka sendiri, tetapi memastikan bahwa ibadah kepada Allah dipulihkan. Sebuah bangsa atau keluarga hanya akan kuat jika pusatnya adalah kehadiran Tuhan. Suksesnya masa depan kita tidak ditentukan oleh seberapa besar bangunan yang kita dirikan, melainkan oleh seberapa setia kita menjaga persekutuan dengan Allah di tengah kesibukan sehari-hari.Refleksi:Bagaimana kesetiaan orang-orang Lewi dalam tugas rutin mereka mencerminkan ibadah yang sejati kepada Allah?Apa bahaya yang akan terjadi jika kita hanya mau melayani ketika terlihat atau dipuji?Bagaimana bagian ini menantang kita untuk memandang pekerjaan sehari-hari sebagai bagian dari ibadah kepada Allah?Doa:Allah Bapa, terima kasih karena Engkau adalah Allah yang memberikan kesempatan untuk memulai kembali. Ajarlah kami untuk setia pada setiap tugas yang Engkau percayakan, sekecil apa pun itu. Biarlah hidup kami menjadi bagian dari pembangunan kembali kerajaan-Mu di bumi ini, dan kiranya fokus kami selalu tertuju pada kehadiran-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT