Main

Services

Contact

Selamat datang di GKY Gerendeng!

Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Hero

Visi dan Misi Gereja

Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.

Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.

Section One GKYRD

CREED

QT Terbaru

6 Agustus 2026

Menjadi Kuat dan Menjadi Sombong

Uzia, salah satu raja paling sukses dalam sejarah Yehuda. Namun, kisahnya sekaligus menjadi peringatan tentang bagaimana kesombongan adalah musuh terbesar dari kesuksesan. Uzia naik takhta pada usia yang sangat muda, 16 tahun. Di bawah kepemimpinannya, Yehuda mengalami kemajuan pesat dalam bidang militer, pertanian, dan teknologi. Namun, akhir hidupnya adalah sebuah tragedi yang memilukan.Kunci utama keberhasilan Uzia: "Ia mencari Tuhan selama hidup Zakharia... Dan selama ia mencari TUHAN, Tuhan membuat segala usahanya berhasil." Uzia adalah seorang inovator; ia membangun menara, menggali sumur, dan menciptakan mesin-mesin perang. Tuhan tidak melarang kita untuk menjadi hebat, kaya, atau inovatif. Namun, kita harus sadar bahwa hikmat untuk membangun semua itu berasal dari Dia.Perubahan drastis terjadi pada Uzia: "Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati, sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Tuhannya..." Uzia merasa bahwa karena dia adalah raja yang hebat, dia boleh melanggar ketetapan Tuhan dengan masuk ke dalam Bait Tuhan untuk membakar ukupan, tugas yang hanya dikhususkan bagi para imam. Kekuatan yang tidak disertai dengan kerendahan hati akan menghancurkan kita. Sering kali, musuh terbesar kita bukanlah kegagalan, melainkan keberhasilan. Saat kita merasa sudah "kuat", kita cenderung mulai merasa "bebas" dari aturan Tuhan atau merasa tidak perlu lagi tunduk pada otoritas rohani. Waspadalah saat kita merasa paling hebat, karena di situlah kejatuhan sedang mengintai.Imam Azarya dan 80 imam lainnya menunjukkan keberanian luar biasa dengan menegur raja. Mereka tidak takut pada kekuasaan raja demi menjaga kekudusan rumah Tuhan. Namun, bukannya bertobat, Uzia justru menjadi marah. Uzia memiliki kesempatan untuk bertobat saat para imam menghalanginya. Namun, kemarahan sering kali menjadi tameng bagi orang yang sombong. Jika seseorang mengingatkan kita tentang batas-batas yang kita langgar, janganlah marah. Itu adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari kerusakan yang lebih besar.Seketika itu juga, saat Uzia marah, penyakit kusta timbul di dahinya. Ia harus dikucilkan dan hidup di rumah pengasingan sampai hari matinya. Ia kehilangan segalanya: takhtanya, kebebasannya, dan haknya untuk masuk ke rumah Tuhan. Dosa mungkin terasa instan, tetapi dampaknya bisa permanen. Uzia diingat sejarah bukan hanya sebagai raja yang membangun menara, tetapi sebagai raja yang mati sebagai penderita kusta karena kesombongannya. Jangan tukar warisan iman dan integritas yang sudah kita bangun bertahun-tahun dengan satu momen keangkuhan.Refleksi:Mengapa keberhasilan dan reputasi sering kali menjadi ujian yang lebih berat daripada kesulitan?Bagaimana tindakan Uzia memasuki Bait TUHAN mengungkapkan ketidaktaatan yang didorong oleh kesombongan?Mengapa teguran dari para imam justru menjadi kesempatan terakhir bagi pertobatan Uzia?Doa:Allah Bapa, terima kasih untuk setiap keberhasilan yang Engkau percayakan dalam hidup kami. Tolonglah kami agar tetap rendah hati dan tetap mencari wajah-Mu, bahkan saat kami merasa kuat. Jangan biarkan kesombongan menguasai hati kami. Berikan kami hati yang mau diajar dan ditegur, agar kami bisa mengakhiri perjalanan kami dengan setia di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

5 Agustus 2026

Tidak Konsisten

Pemerintahan Amazia, raja Yehuda adalah potret klasik tentang seseorang yang memiliki ketaatan setengah hati dan bagaimana kesuksesan yang tidak dikelola dengan kerendahan hati dapat menjadi jerat penghancur. Kehidupan Amazia dimulai dengan sebuah catatan sekaligus menjadi peringatan: "Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, hanya tidak dengan segenap hati".Ketika hendak berperang melawan Edom, Amazia menyewa 100.000 pahlawan dari Israel (Utara) dengan membayar 100 talenta perak. Namun, seorang abdi Tuhan melarangnya karena Tuhan tidak menyertai Israel. Amazia sempat bimbang karena ia sudah mengeluarkan banyak uang. Pesan abdi Tuhan: "TUHAN dapat memberikan lebih dari pada itu kepadamu!". Amazia akhirnya taat dan melepaskan pasukan sewaan itu meskipun rugi secara finansial.Apakah ketaatan kita kepada Tuhan masih bergantung pada untung-rugi? Sering kali kita sulit melakukan yang benar karena merasa sudah "berinvestasi" terlalu banyak pada hal yang salah. Ingatlah, ketaatan tidak pernah membuat kita merugi. Tuhan sanggup mengganti apa pun yang kita lepaskan demi menuruti perintah-Nya dengan jauh lebih melimpah.Amazia meraih kemenangan besar atas Edom. Namun, tragisnya, sekembalinya dari pertempuran, ia justru membawa dewa-dewa orang Edom dan menyembahnya. Ia mengadopsi dewa-dewa dari bangsa yang baru saja ia kalahkan. Hati-hatilah dengan apa yang kita bawa pulang dari sebuah kesuksesan. Sering kali, setelah kita "menang" (sukses dalam karier atau bisnis), kita mulai mengadopsi nilai-nilai dunia (kesombongan, gaya hidup fasik, ketergantungan pada uang) yang sebenarnya sudah kita kalahkan sebelumnya. Kesuksesan tanpa iman yang segenap hati akan membuat kita menyembah berhala-berhala baru.Karena merasa kuat setelah mengalahkan Edom, Amazia menjadi sombong dan menantang raja Israel untuk berperang. Meskipun sudah diperingatkan melalui perumpamaan tentang duri dan pohon aras, Amazia tetap keras kepala. Akibatnya, ia kalah telak, tembok Yerusalem dibongkar, dan perbendaharaan rumah Tuhan dirampas. Keangkuhan mendahului kehancuran. Ketika kita mulai berhenti mendengar nasihat dan merasa paling benar karena merasa sudah sukses, di situlah kita sedang berjalan menuju tepi jurang. Hati yang tulus akan selalu tetap terbuka pada teguran, sehebat apa pun pencapaian kita.Sama seperti ayahnya (Yoas), Amazia menjauh dari Tuhan di masa tuanya. Hidupnya berakhir melalui persepakatan orang-orang yang memberontak terhadapnya.Refleksi:Mengapa Amazia mau menaati firman Tuhan dalam satu hal, tetapi mengabaikannya dalam hal lain?Mengapa keberhasilan rohani atau militer bisa menjadi bahaya jika tidak disertai kerendahan hati?Apa hubungan antara ketidaktaatan yang berulang dan kehancuran yang dialami Amazia di akhir hidupnya?Doa:Allah Bapa, kami tidak mau memiliki hati yang mendua. Berikanlah kami keberanian untuk taat sepenuhnya kepada-Mu, meskipun secara manusiawi kami terlihat merugi. Jagalah hati kami agar tetap rendah hati di masa-masa kesuksesan kami, dan jangan biarkan kami berpaling pada dewa-dewa dunia ini. Kami mau mengikut-Mu dengan segenap hati kami sampai akhir. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.

Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT

Ada yang bisa kami bantu?

Mari terhubung! Kami ada di sini untuk menemani langkah iman Anda dan membantu Anda mengenal lebih dekat keluarga besar GKY Gerendeng.